Halilintar menggelegar saling bersahutan, angin kencang
menusuk hingga ke tulang, hujan yang sedari tadi mengguyur tanpa henti,
membuatku semakin erat memeluk diri sendiri, pakaianku kuyup karena berlari
tanpa payung yang menaungi. “Dingin sekaliiii,,” ucapku pelan dengan
bibir gemetar. Mengalami hal semacam ini, aku akan kembali mengingat peristiwa
tak terlupakan beberapa tahun silam, peristiwa diamana aku tak dapat menahan
perihnya kehilangan.
"Kau tahu, mimpi itu takkan pernah menjadi
kenyataan apabila kamu tidak dapat merealisasikan. Kau bilang akan mewujudkan
mimpi itu, sedangkan kau sendiri tak pernah mau bangun dari tidurmu, tak pernah
mau mengusir kemalasan yang tertanam dihatimu." Suara itu selalu
terngiang di telingaku, dan jujur, aku sangat rindu...
***
Bel sekolah nyaring berbunyi,
menandakan usainya jam pelajaran yang menjenuhkan. Teman-teman sekelasku sibuk
membereskan barang-barang mereka dan bersiap untuk pulang, percakapan-percakapan
begitu akrab terdengar membuat riuhnya suasana kelas di kala petang. Aku masih
santai di tempat dudukku, “Ndah, aku duluan ya”, ucap Kayla yang paham
dengan kebiasaan ‘unikku’ berpamitan. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa
keluarnya sebuah kata, seulas senyuman bagiku telah mewakilinya.
Kelas sudah sepi, tinggalah aku
seorang diri. Aku mulai menyalin tulisan yang tertera di papan, mataku memang
sudah tidak normal, jadi aku harus rela pulang paling akhir sendirian.
***
Matahari mulai tenggelam di ufuk
barat, menyiratkan pancaran cahaya orange kekuningan, perlahan hilang ditelan
gelap pertanda siang mulai berganti malam. Pemandangan indah seperti ini selalu
menemaniku menyusuri jalanan yang mulai lenggang, sendiri berteman sepi mencari
kendaraan pulang. Bosan rasanya bila hari-hariku terus berlalu seperti itu,
tidak ada secuil pun hal istimewa yang kurasa. Pikiranku melayang, membayangkan
hari ini ada seseorang yang berjalan menemaniku, bercengkrama dalam kenyataan,
bukan sekedar dalam angan. “Ah,,aku bosan”, pekikku lirih sembari
menendang kerikil di depanku.
Angin tiba-tiba berhembus kencang,
sepertinya akan turun hujan. Dan benar, selang beberapa langkah, hujan deras
menguyur tanah hingga basah, aku segera berlari mencari tempat berteduh. Seragam
putih abu-abu panjang yang kukenakan basah, aku mulai resah, memikirkan
bagaimana cara untuk segera pulang ke rumah. “Baru pulang dek?”, tanya
perempuan berjilbab lebar membuyarkan lamunan, “E, iya, kak”, jawabku sekenanya.
Ia terlihat begitu ramah dengan keteduhan senyuman yang merekah. Tangannya tampak
memeluk beberapa map berisikan kertas, sepertinya ia mahasisiwa. Beberapa kali
mataku sedikit meliriknya, dan kakak tanpa nama itu begitu membuatku terkesima.
Sambil menunggu hujan reda, ia membaca Al-Qur’an kecil di tangan kanannya,
bibir dan mata tampak bergerak seirama, menyusuri rangkaian ayat-ayat cinta
dari Sang Pencipta. Adzan maghrib
berkumandang, samar-samar terdengar karena beradu dengan gemuruh hujan yang
terus berjatuhan. “Nanti pulangnya gimana?”, kakak itu kembali bertanya.
“Naik angkutan umum kak, seperti biasa, tapi kali ini nunggu hujan reda”,
aku berusaha menyembunyikan kekhawatiran. Ia melirik jam yang melingkar di
pergelangan tangan, raut wajahnya seperti tak tega bila harus meninggalkan aku
seorang diri di jalanan yang teramat sepi, “Gimana kalau sekarang kita
sholat dulu dek, nanti kakak antar kamu sampai ke rumah. Jam segini kayaknya
angkot udah gak ada”, ucapnya berusaha meyakinkan. Aku yang sempat ragu
tidak dapat menolak tawaran yang ia berikan. Berdua berboncengan diatas motor
matic hitam, mencari masjid terdekat untuk bersembahyang.
***
“Indah,,, kak Rahma nunggu kamu
tuh”, suara Ibu megingatkanku. Rahma Yulia, itulah nama panjangnya, tetapi
aku memanggilnya kak Rahma. Saat mengantarku pulang hari itu, akhirnya aku tahu
namanya dan tidak lagi memanggilnya kakak tanpa nama. Kami berdua semakin
dekat, lebih dari kedekatan seorang sahabat, namun lebih tepatnya aku
menganggapnya sebagai kakak. Kak Rahma begitu dewasa, dia selalu mendengarkan semua
keluh kesah yang kurasa. Dengan seksama ia mendengarnya, dan di akhir cerita
pasti akan ada nasehat penggugah jiwa yang diberikannya. Ah, aku begitu sayang
padanya. J
Satu tahun berlalu, aku masuk ke
kampus yang sama dengan kak Rahma tetapi jurusan kami berbeda, kak Rahma di
bagian sastra dan aku matematika. Karya-karya kak Rahma begitu mempesona,
terkadang cerita-cerita yang dibuatnya mampu mengalirkan air mata. Beberapa kali
namanya tertulis di majalah kampus dan beberapa cerpennya menyabet juara dalam
perlombaan-perlombaan yang diadakan Fakultas Sastra Budaya.
Ketenaran tak membuatnya lupa bahwa
kakinya masih memijak daratan, tak melambungkan walaupun beberapa kali diminta
untuk mengisi seminar kepenulisan. Ia tetap apa adanya, rendah hati begitu kuat
tertambat sebagai pondasi hidupnya.
***
“Indah,,tunggu!!”, kak Rahma
berteriak lantang melihatku pergi begitu saja saat dia mencoba menjelaskan
kejadian yang menorehkan luka di dada. Aku menyesal telah bertindak
kekanak-kanakan kala itu, aku berpikir seandainya waktu dapat diulang, maka tak
sedikitpun tubuh kugeserkan. Aku akan mendengarkannya dengan seksama, seperti
yang sering dilakukan kak Rahma. Buruk sangka telah merubah segalanya.
Hujan turun begitu derasnya, aku
berlari menerobos hujan tanpa naungan. Sorot lampu kendaraan yang berlalu
lalang menghiasi jalan. Pikiranku terus dibayangi sosok Fadli dan kak Rahma sedang
asyik bercengkrama. Brakk!!! Suara benturan begitu keras terdengar, mengalahkan
derasnya suara hujan. Aku menoleh kebelakang, samar-samar mataku memandang
seorang perempuan berjilbab lebar terkapar di tengah jalan, beberapa orang
tampak mengerumuni, seketika jantungku terasa berhenti. “Kakkkk”,
pekikku sembari berlari menghampiri. Darah segar mengalir tersiram air hujan,
kerudung putihnya berubah menjadi merah berlumuran darah. Aku segera memangku
kepala kak Rahma dan menangis sejadi-jadinya. Nafas kak Rahma tak beraturan,
namun bibirnya tak henti-hentinya digerakkan. Perlahan matanya terbuka,
bibirnya menyiratkan senyuman saat melihatku tengah tersenggal-senggal dengan
air mata bercucuran. Wajahnya tak sedikitpun menunjukkan kesakitan, tatapannya
mulai nanar, tangan kanannya berusaha menyentuh wajahku. “Maaa..aaff..dek”,
itulah kata terakhir kak Rahma yang membuatku semakin meronta, karena tidak
seharusnya ia mengucapkannya.
***
Malam semakin larut, aku masih
termenung memikirkan kesalahan fatal yang telah kulakukan, dan kini aku merasa
sangat kehilangan. Terlebih mendengar pengakuan jujur Fadli tentang kebersamaan
mereka di hari terakhir kak Rahma, “Aku dan Rahma diundang sebagai partner
untuk mengisi seminar”. Penyesalan dalam diri tak dapat kututupi, tiga hari
aku termenung sendiri berteman sepi selepas kak Rahma pergi. Tiada lagi yang
mendengar cerita-ceritaku, tertawa melepas rindu ketika beberapa hari ia pergi
keluar kota untuk mengisi acara. Memberiku solusi soal kegalauan remaja masa
kini dengan dalil-dalil Al-Qur’an yang menenangkan.
Memang, adanya pertemuan pasti akan diikuti dengan
perpisahan, karena kehidupan di dunia hanyalah sementara, tidak satu pun manusia akan hidup untuk selamanya. Dan sebelum hari itu tiba, tidak
ada salahnya kita menyayangi mereka sebanyak yang kita bisa. Sebelum terjadi penyesalan
karena berpisah dengan kesalahan yang belum sempat terbayar dan ucapan maaf yang tidak sempat tersampaikan.
Ketika hujan aku menemukannya, dan ketika hujan pula aku
harus rela melepas kepergiannya. Terimakasih kak Rahma Yulia, kamulah sahabat
terbaik yang pernah kupunya. J
0 komentar:
Posting Komentar