“Apa yang membawamu kembali ke tempat ini?”, Fatih membuka percakapan.
Dalam
gelap malam tanpa penerangan lampu pijar, kami duduk bersebelahan sembari
menjuntaikan kaki, mata kami menatap suasana bumi Darussalam yang dihiasi
lampu-lampu pada setiap sudut bangunan.
“Segenggam
amanah”, jawabku sembari menerawang langit malam bertabur bintang. Sesekali
angin berembus kencang, menyibakkan sorban putih bercorak hitam putih yang aku
kenakan.
“Tidakkah
kau ingin pulang Lif?”, tanya Fatih kembali dengan nada sumbang.
Aku
hanya menyunggingkan senyuman. Fatih menatapku heran dan untuk beberapa saat
kami berdua terdiam, kedinginan menembus hingga ke tulang.
Sepuluh
tahun berlalu semenjak aku dan Fatih mematri sebuah janji, ya, janji untuk kembali
ke tempat ini. Dari atap gedung Saudi inilah, bermulanya sebuah kisah.
***
Saat itu, kira-kira sepuluh tahun
yang lalu, hari masih sangat pagi, gulita pun menyelimuti jiwa-jiwa yang tengah
berpetualang mengitari setiap sudut dunia mimpi.
Allahu Akbar.. Allaahu Akbar..
Adzan
subuh berkumandang, mencoba membangunkan setiap jiwa yang merasa tenang, dalam
balutan selimut penuh kehangatan. Di ruangan berukuran 7 x 8 m, dua puluh lima
santri masih terlelap di atas kasur busa setebal 5 cm. Sayup-sayup terdengar
suara gebrakan kasar, berurutan mulai dari kamar yang paling dekat dengan
tangga asrama lantai dua.
Semakin
lama, suara itu semakin mendekat, brak..brak..brak..
tongkat bagian keamanan mendarat di pintu kamar, berulang-ulang, membuat
mimpiku buyar dan seketika terduduk dalam keadaan setengah sadar.
“Qum!!
Qum!! Idzhab ilal masjid!! (Bangun!! Bangun!! Pergilah ke masjid!!), dan
segera aku menyambar sarung yang tergantung di depan almari. Gerakan kami di
pondok ini harus extra cekatan,
sekali susah dibangunkan, sudah pasti akan dimandikan oleh bagian keamanan, langsung
di atas kasur yang jauh dari kata tebal.
Tak ada yang lebih menentramkan kecuali
suasana masjid Darussalam saat fajar menjelang. Di sanalah aku menemukan sesuatu
yang lain, sesuatu yang mebuatku bertahan hingga sekarang. Masih jelas
tergambar dalam memori ingatan, aku merasa telah dibuang. Tak sayang lagikah
Ayah dan Ibu kepadaku? Dalam balutan gulita aku mengadukan segalanya, kepada
Dzat Yang Maha Mendengar setelah sholat fajar.
***
“Ibu.. aku mau pulang, gak betah..”,
aku terisak dalam bilik telepon, butiran hangat terus menganak sungai di pipiku.
Antrean di wartel sangatlah panjang, namun sama sekali tak kuhiraukan. Saat itu,
tak ada lagi yang aku pikirkan selain pulang, pulang dan pulang.
“Coba dulu seminggu, nanti kalau
masih belum betah bisa pulang”, kata Ibu berusaha meyakinkanku.
Satu
minggu berlalu, aku menagih janji Ibu tempo hari, namun sama sekali tak kudapati.
Hanya jawaban sama yang kudapat pada minggu-minggu setelahnya, sampai aku bosan
dan pada akhirnya memilih untuk bertahan.
Langit siang nampak begitu cerah, terlihat
di bawah sana, para santri berlari-lari kecil sembari membawa alat makan menuju
dapur umum. Antrean yang sangat panjang terkadang membuatku memilih untuk tidak
makan dan pergi ke tempat ini, ya, atap gedung Saudi. Tempat yang menjadi saksi
sebuah perjuangan, perjuangan yang teramat berat aku rasakan, bak merangkak
mencari mata air di tengah gurun yang gersang, nanar mata ini tuk menatap ke
depan, hilang arah serta tujuan.
“Sedang apa?”
Suara itu membuyarkan lamunanku, tak
biasanya ada orang lain disini, selain hanya aku seorang diri, termenung dan
kadang mengabadikan pengalaman sehari-hari dalam bentuk tulisan.
“Sedang menulis”, jawabku singkat.
Itulah kali pertama aku bertemu
dengannya, Muhammad Al-Fatih, seseorang yang kuanggap sahabat hingga sekarang. Pondasi
persahabatan kami sederhana saja, ya, hobi yang sama. Dulu, setiap selesai
belajar kami selalu duduk menatap wajah malam, terkadang purnama nampak
bersinar terang diantara kemerlip ribuan bintang, tempat kami menggantungkan
mimpi-mimpi serta harapan.
***
Teng...teng...teng...
Suara lonceng besar menggema ke
seluruh penjuru pesantren, pukul tujuh tepat. Gedung-gedung asrama nampak sepi
seperti tak berpenghuni, hanya beberapa santri yang memang sedang piket
terlihat sibuk menyapu dedaunan di halaman. Gedung asrama terletak berjajar
seperti kompleks perumahan, masing-masing mempunyai halaman dengan pepohonan
rindang. Jalan lebar di tengah jajaran gedung asrama tak beraspal, hanya tanah
yang pada musim hujan akan berubah menjadi genangan. Sudah tak terhitung berapa
kali aku harus membeli alas kaki saat musim hujan, dan yang aku heran, hanya
tersisa satu bagian, entah itu kiri maupun kanan. Mungkin terselip di selokan.
Hahaha,
sungguh nostalgia yang menyenangkan.
“Man
saaro ‘alaa darbi washola”
Samar-samar suara teriakan terdengar
serentak dari sudut lain pesantren Darussalam, dengan semangat berkobar
kata-kata tersebut kembali diulang. Suasana kelas hening kala Ustadz
menjabarkan maksud dari kata mutiara yang mereka teriakan sebelumnya. Aku
menyimak dengan seksama, pesan yang terkandung di dalamnya sungguh membuatku
terkesima, “Barang siapa yang berjalan pada jalannya, sampailah ia”.
Energi positif
mengalir tiba-tiba, rasa tidak betah yang menyelimutiku hilang seketika. Aku
menghela nafas panjang, seulas senyuman kutunjukkan demi menyambut masa depan
gemilang.
“Alif sehat???” ledek Fatih yang
sedari tadi memperhatikan, matanya memerah dan hampir terpenjam, kebiasaannya
adalah mengantuk saat jam pelajaran pertama, dan aku tahu betul alasannya.
Aku
tertawa dan sedikit meninju bahu Fatih sembari berkata, “Tumben gak tidur Pak
Ustadz..” dan tawa kami pun bergelak.
“Al-waraa’,
lima tadzhakumaa? (Yang belakang, kenapa kalian berdua tertawa?)”, Ustadz
Ramli mengacungkan telunjuknya ke arah kami, disusul dengan perintah, “Ukhrujaa wa kumaa tahta dhiyai syams,
al’an!! (Keluar kalian berdua dan berdiri dibawah terik matahari,
sekarang!!)” tergopoh kami berdua keluar untuk mengerjakan hukuman, berani
berbuat, harus berani bertanggung jawab.
Hahaha, lagi-lagi nostalgia yang mengundang
tawa.
***
“Apa kau ingat Lif?”
“Apa?” kataku sembari mengalungkan
sorban hingga menutup setengah wajahku karena kedinginan.
“Aku sangat bersyukur memiliki
sahabat sepertimu, sahabat yang selalu ada bukan hanya di saat suka, namun saat
duka pun kau selalu ada, meskipun harus ikut memikul hukuman untuk kesalahan
yang sama sekali tidak kau lakukan”, suara Fatih parau.
Aku tersenyum di balik balutan
sorban seraya menepuk bahu Fatih untuk menyemangati, “Lupakan Fat! Jangan
ungkit masa lalu yang tidak menyenangkan, masa depan kita masih panjang, cukup
kamu jaga dan bimbing dek Isma dalam keistiqomahan. Masa lalu jangan dijadikan
ratapan, namun jadikanlah pelajaran. Jangan pernah mengulang kesalahan yang
sama untuk kedua kalinya.”
Kala
itu, sebuah peristiwa terpaksa membuat jeda, persahabatan yang kami jalin
bersama hampir saja tiba di penghujung masa. Peristiwa yang hingga kini menjadi
bayang-bayang dalam pikiran, namun demi menjaga perasaan Fatih, aku selalu
menyimpannya dalam diam, walaupun hati ini begitu perih menahan kekecewaan.
***
Matahari mulai menyongsong pagi,
perlahan gulita tersibak pancaran cahaya yang menyemburat di ufuk timur. Kemuning
padi memperindah pemandangan sisi belakang bumi Darussalam. Dari atas bukit
buatan aku termenung sendirian, di bawah gazebo bambu pena hitam mulai
kuayunkan, mengisi lembaran demi lembaran buku tulis yang semula putih tanpa
adanya coretan.
Burung-burung berkicauan riang,
terbang bergerombol saling mengejar, sesekali hinggap di dahan pohon yang
rindang. Pikiran dan tanganku bergerak seirama menciptakan sebuah karya, aku
menghela nafas panjang, sesak dada ini mengenang kejadian tempo hari. Aku
merasa telah gagal, amanah yang Ayah berikan tak dapat sepenuhnya aku emban.
Amanah untuk menjaga adikku Isma dalam keistiqomahan, seperti yang beliau
katakan sebelum meninggal. Usia kami berdua terpaut dua tahun, Isma berada di
pesantren yang sama, hanya saja berbeda lokasinya. Jarak pesantren Darussalam
putra dan putri adalah 100 km, seperti syarat yang dikemukakan oleh Trimurti
pendiri pesantren Darussalam. Peristiwa tak menyenangkan itu bermula saat aku
mengajak Fatih untuk menjenguk dek Isma di pondok putri.
Andaikata,
adalah suatu keputus asaan yang nyata. Namun apalah daya, nasi yang telah menjadi
bubur tidak dapat kembali dalam bentuk aslinya.
***
Ustadz Mustaqim terdiam setelah
beberapa saat naik pitam, tak henti mengintrogasi, memarahi, dan menasehati dua
orang santri yang telah melanggar peraturan sekaligus melakukan kesalahan
terbesar. Aku dan Fatih hanya tertunduk diam, tak ada pembelaan yang kami
lontarkan jika Ustadz bagian pengasuhan itu tak memperkenankan kami untuk
menjawab, karena semua itu adalah bagian dari nilai adab dan kesopanan.
“Alif, apa kamu tahu kalau ternyata
temanmu ini secara diam-diam menjalin hubungan di luar batas kewajaran dengan
ADIKMU yang saat ini berada di pondok putri?” Ustadz Mustaqim menekankan satu
kata yang membuat mataku terbelalak mendengarnya. Bagaikan disambar halilintar
di tengah siang tanpa adanya mendung ataupun hujan. Aku terdiam, hanya mengisyaratkan
gelengan sebagai jawaban.
Hari itu, kira-kira empat tahun yang
lalu, tepat seminggu setelah kami melalui ujian niha’iy atau ujian akhir KMI (Kulliyatul
Mu’allimin Al-Islamiyah). Seharusnya hal seperti itu tidak terjadi,
seharusnya kami sedang tak sabar untuk menanti hari kelulusan, hari dimana air
mata kebahagiaan bercucuran. Sungguh bukan akhir seperti itu yang aku harapkan,
menangis dalam kepedihan karena harus pulang dengan tidak terhormat, diusir
karena telah melakukan maksiat. Pacaran dalam Islam adalah haram, begitu pula
di pondok ini, konsekuensi bagi si pelanggar adalah DIKELUARKAN.
***
Empat tahun sudah diri ini
kuabdikan, kepada pondok yang sudah mendidikku hingga menjadi seperti sekarang.
Tak cukup rasanya bila hanya melakukan pengabdian dan setelah itu pulang. Tiga
hari tiga malam aku meminta petunjuk kepada Dzat Yang Maha Mendengar, bersimpuh
di sepertiga malam hingga adzan subuh berkumandang.
Ramadhan tahun ini aku pulang,
senang rasanya dapat berkumpul kembali bersama mereka, keluargaku tercinta. Ibu
sedang sibuk dengan Alia, buah hati Fatih dan Isma. Dua tahun setelah peristiwa
pengusiran itu, mereka berdua memutuskan untuk menikah. Aku menghargai
pertanggung jawaban yang Fatih berikan untuk menebus kekhilafan sekaligus
mengeratkan kembali tali persahabatan yang telah renggang semenjak kejadian.
Ibu melambaikan
tangannya kepadaku yang sedari tadi termangu di balik kelambu pintu ruang
tengah. Aku tersenyum sembari berjalan ke arah Ibu, gurat wajahnya semakin
menua, aku tak tega untuk mengutarakan niat yang telah membulat menjadi tekad.
“Ibu..”,
ucapku sedikit ragu.
“Iya
nak, ada apa?”, jawab Ibu sembari
memegang kedua tanganku.
“Apa
yang ingin kamu katakan?” tanya Ibu sedikit penasaran.
Aku
menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan, “Alif punya cita-cita bu,
cita-cita yang in syaAllah sangat mulia. Alif merasa apa yang pondok berikan
kepada Alif teramat besar, tak cukup jika hanya bentuk pengabdian sebagai
syarat pengambilan ijazah saja yang Alif lakukan, Alif ingin mengabdi secara
keseluruhan. Jika Ibu berkenan, bolehkah Alif mewakafkan diri kepada pondok?”
Kulihat
mata ibu berkaca-kaca, dielusnya kepalaku dengan penuh cinta. “Lif, Ibu bahagia
sekali kamu punya cita-cita yang sangat mulia. Ayahmu pasti bangga di alam sana.
Pergilah nak, Ibu tidak akan menyergah.”
Kubenamkan
wajah dalam pelukan Ibu, tangis bahagia pecah diantara kami berdua. Keesokan
harinya akupun kembali ke pondok setelah satu minggu lamanya menghabiskan waktu
bersama keluarga.
***
Aku
mematung di depan gerbang pesantren. Ke
Darussalam Apa Yang Kau Cari, itulah kalimat sambutan yang terpampang di
pintu gerbang, kalimat ini akan terus terpampang agar santrinya tahu, untuk apa
mereka datang ke Darussalam.
Pak
Kyai pernah berpesan dalam sebuah forum, “Ke Darussalam adalah untuk mencari
pendidikan dan pengajaran, karena Darussalam adalah tempat pendidikan mental
dan karakter. Di sinilah para santri akan dididik untuk menjadi seorang ulama’
yang intelek, bukan intelek yang tahu agama. Karena pemimpin harus mempunyai
kriteria pemimpin. Darussalam mencetak kader-kader pemimpin umat untuk kejayaan
bangsa, dari sinilah seorang pemimpin harus berani berkorban, berpikir keras,
bekerja keras, dan berdo’a keras”.
Tepat
adzan dhuhur berkumandang, para santri dengan pakaian rapi bergegas memenuhi
panggilan Ilahi. Kupandang bangunan
kokoh di depanku, muara pandangan yang takkan pernah lekang, akhirnya mimpi itu
menjadi kenyataan, mimpi yang tempo hari Allah berikan sebagai jawaban atas
do’aku di sepertiga malam.
Perlahan
kakiku melangkah, mendekati bangunan megah dengan susunan anak tangga tepat di
bagian tengahnya. Hatiku bergetar hebat, butiran bening tertahan di pelupuk
mata, inilah awal masa depan yang dahulu pernah aku cita-citakan, masa depan
gemilang. “Bismillah...”, lirihku
sembari memijaki satu persatu anak tangga menuju satu tempat bernuansa surga.
***
Jam tanganku menunjukkan pukul 11
malam, angin semakin berembus kencang. Kerikan jangkrik memecah keheningan, tak
ada percakapan, aku dan Fatih masih terdiam menatap langit malam.
“Ini janji kita sepuluh tahun lalu”,
aku mengeluarkan bingkisan dari balik jas hitam yang aku kenakan. Janji sepuluh
tahun itu adalah saling bertukar karya karena hobi yang sama. Sebuah buku bersampul
coklat muda dengan judul Segenggam Amanah
kusodorkan kepada Fatih.
“Sudah kuduga, kau memang hebat
kawan”, ucapnya seraya menepuk-nepuk bahuku tanda rasa bangga. Wajah tampannya
kembali cerah setelah beberapa saat merasa sangat bersalah.
“Where
is yours??”, tagihku seraya memincingkan alis.
“In
your mind”, Fatih tertawa lepas.
“Hahahaha...
aku hanya bercanda Lif. Tenang, sahabatmu ini bukan orang ingkar”.
“Allahumma ba’id bainaa minar riyaa’ ”,
ucapku dengan ekspresi sok datar. Fatih tak henti tergelak, membuatku terpaksa
meninju bahunya dengan sedikit kasar hingga ia mengaduh dan berhenti tertawa.
Akhirnya ia mengeluarkan sebuah buku tebal dari ranselnya. Sepenggal Cerita Di Lorong Pesantren, buku itu bersampul biru
dengan gambar masjid jami’ Darussalam terpampang di depannya, sebuah nama
terukir di sisi kiri bawah, Al-Fatih.
Aku tersenyum
bangga menerimanya.
Malam
ini telah menjadi saksi sebuah perjalanan, perjalanan penuh perjuangan. Banyak
gelombang yang harus kami terjang, lika liku kehidupan terus menghadang, namun
dengan niat dan tekad, akhirnya kami diberikan jalan sehingga dapat melewatinya
dengan lapang.
-TAMAT-

0 komentar:
Posting Komentar