Senin, 07 November 2016

SEGENGGAM AMANAH



“Apa yang membawamu kembali ke tempat ini?”, Fatih membuka percakapan.
Dalam gelap malam tanpa penerangan lampu pijar, kami duduk bersebelahan sembari menjuntaikan kaki, mata kami menatap suasana bumi Darussalam yang dihiasi lampu-lampu pada setiap sudut bangunan.
“Segenggam amanah”, jawabku sembari menerawang langit malam bertabur bintang. Sesekali angin berembus kencang, menyibakkan sorban putih bercorak hitam putih yang aku kenakan.
“Tidakkah kau ingin pulang Lif?”, tanya Fatih kembali dengan nada sumbang.
Aku hanya menyunggingkan senyuman. Fatih menatapku heran dan untuk beberapa saat kami berdua terdiam, kedinginan menembus hingga ke tulang.
Sepuluh tahun berlalu semenjak aku dan Fatih mematri sebuah janji, ya, janji untuk kembali ke tempat ini. Dari atap gedung Saudi inilah, bermulanya sebuah kisah.
***
            Saat itu, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, hari masih sangat pagi, gulita pun menyelimuti jiwa-jiwa yang tengah berpetualang mengitari setiap sudut dunia mimpi.
Allahu Akbar.. Allaahu Akbar..
Adzan subuh berkumandang, mencoba membangunkan setiap jiwa yang merasa tenang, dalam balutan selimut penuh kehangatan. Di ruangan berukuran 7 x 8 m, dua puluh lima santri masih terlelap di atas kasur busa setebal 5 cm. Sayup-sayup terdengar suara gebrakan kasar, berurutan mulai dari kamar yang paling dekat dengan tangga asrama lantai dua.
Semakin lama, suara itu semakin mendekat, brak..brak..brak.. tongkat bagian keamanan mendarat di pintu kamar, berulang-ulang, membuat mimpiku buyar dan seketika terduduk dalam keadaan setengah sadar.
            “Qum!! Qum!! Idzhab ilal masjid!! (Bangun!! Bangun!! Pergilah ke masjid!!), dan segera aku menyambar sarung yang tergantung di depan almari. Gerakan kami di pondok ini harus extra cekatan, sekali susah dibangunkan, sudah pasti akan dimandikan oleh bagian keamanan, langsung di atas kasur yang jauh dari kata tebal.
            Tak ada yang lebih menentramkan kecuali suasana masjid Darussalam saat fajar menjelang. Di sanalah aku menemukan sesuatu yang lain, sesuatu yang mebuatku bertahan hingga sekarang. Masih jelas tergambar dalam memori ingatan, aku merasa telah dibuang. Tak sayang lagikah Ayah dan Ibu kepadaku? Dalam balutan gulita aku mengadukan segalanya, kepada Dzat Yang Maha Mendengar setelah sholat fajar.
***
            “Ibu.. aku mau pulang, gak betah..”, aku terisak dalam bilik telepon, butiran hangat terus menganak sungai di pipiku. Antrean di wartel sangatlah panjang, namun sama sekali tak kuhiraukan. Saat itu, tak ada lagi yang aku pikirkan selain pulang, pulang dan pulang.
            “Coba dulu seminggu, nanti kalau masih belum betah bisa pulang”, kata Ibu berusaha meyakinkanku.
Satu minggu berlalu, aku menagih janji Ibu tempo hari, namun sama sekali tak kudapati. Hanya jawaban sama yang kudapat pada minggu-minggu setelahnya, sampai aku bosan dan pada akhirnya memilih untuk bertahan.
            Langit siang nampak begitu cerah, terlihat di bawah sana, para santri berlari-lari kecil sembari membawa alat makan menuju dapur umum. Antrean yang sangat panjang terkadang membuatku memilih untuk tidak makan dan pergi ke tempat ini, ya, atap gedung Saudi. Tempat yang menjadi saksi sebuah perjuangan, perjuangan yang teramat berat aku rasakan, bak merangkak mencari mata air di tengah gurun yang gersang, nanar mata ini tuk menatap ke depan, hilang arah serta tujuan.
            “Sedang apa?”
            Suara itu membuyarkan lamunanku, tak biasanya ada orang lain disini, selain hanya aku seorang diri, termenung dan kadang mengabadikan pengalaman sehari-hari dalam bentuk tulisan.
            “Sedang menulis”, jawabku singkat.
            Itulah kali pertama aku bertemu dengannya, Muhammad Al-Fatih, seseorang yang kuanggap sahabat hingga sekarang. Pondasi persahabatan kami sederhana saja, ya, hobi yang sama. Dulu, setiap selesai belajar kami selalu duduk menatap wajah malam, terkadang purnama nampak bersinar terang diantara kemerlip ribuan bintang, tempat kami menggantungkan mimpi-mimpi serta harapan.
***
Teng...teng...teng...
            Suara lonceng besar menggema ke seluruh penjuru pesantren, pukul tujuh tepat. Gedung-gedung asrama nampak sepi seperti tak berpenghuni, hanya beberapa santri yang memang sedang piket terlihat sibuk menyapu dedaunan di halaman. Gedung asrama terletak berjajar seperti kompleks perumahan, masing-masing mempunyai halaman dengan pepohonan rindang. Jalan lebar di tengah jajaran gedung asrama tak beraspal, hanya tanah yang pada musim hujan akan berubah menjadi genangan. Sudah tak terhitung berapa kali aku harus membeli alas kaki saat musim hujan, dan yang aku heran, hanya tersisa satu bagian, entah itu kiri maupun kanan. Mungkin terselip di selokan.
Hahaha, sungguh nostalgia yang menyenangkan.
            “Man saaro ‘alaa darbi washola”
            Samar-samar suara teriakan terdengar serentak dari sudut lain pesantren Darussalam, dengan semangat berkobar kata-kata tersebut kembali diulang. Suasana kelas hening kala Ustadz menjabarkan maksud dari kata mutiara yang mereka teriakan sebelumnya. Aku menyimak dengan seksama, pesan yang terkandung di dalamnya sungguh membuatku terkesima, “Barang siapa yang berjalan pada jalannya, sampailah ia”.
Energi positif mengalir tiba-tiba, rasa tidak betah yang menyelimutiku hilang seketika. Aku menghela nafas panjang, seulas senyuman kutunjukkan demi menyambut masa depan gemilang.
            “Alif sehat???” ledek Fatih yang sedari tadi memperhatikan, matanya memerah dan hampir terpenjam, kebiasaannya adalah mengantuk saat jam pelajaran pertama, dan aku tahu betul alasannya.
Aku tertawa dan sedikit meninju bahu Fatih sembari berkata, “Tumben gak tidur Pak Ustadz..” dan tawa kami pun bergelak.
            “Al-waraa’, lima tadzhakumaa? (Yang belakang, kenapa kalian berdua tertawa?)”, Ustadz Ramli mengacungkan telunjuknya ke arah kami, disusul dengan perintah, “Ukhrujaa wa kumaa tahta dhiyai syams, al’an!! (Keluar kalian berdua dan berdiri dibawah terik matahari, sekarang!!)” tergopoh kami berdua keluar untuk mengerjakan hukuman, berani berbuat, harus berani bertanggung jawab.
            Hahaha, lagi-lagi nostalgia yang mengundang tawa.
***
            “Apa kau ingat Lif?”
      “Apa?” kataku sembari mengalungkan sorban hingga menutup setengah wajahku karena kedinginan.
            “Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu, sahabat yang selalu ada bukan hanya di saat suka, namun saat duka pun kau selalu ada, meskipun harus ikut memikul hukuman untuk kesalahan yang sama sekali tidak kau lakukan”, suara Fatih parau.
            Aku tersenyum di balik balutan sorban seraya menepuk bahu Fatih untuk menyemangati, “Lupakan Fat! Jangan ungkit masa lalu yang tidak menyenangkan, masa depan kita masih panjang, cukup kamu jaga dan bimbing dek Isma dalam keistiqomahan. Masa lalu jangan dijadikan ratapan, namun jadikanlah pelajaran. Jangan pernah mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.”
Kala itu, sebuah peristiwa terpaksa membuat jeda, persahabatan yang kami jalin bersama hampir saja tiba di penghujung masa. Peristiwa yang hingga kini menjadi bayang-bayang dalam pikiran, namun demi menjaga perasaan Fatih, aku selalu menyimpannya dalam diam, walaupun hati ini begitu perih menahan kekecewaan.
***
         Matahari mulai menyongsong pagi, perlahan gulita tersibak pancaran cahaya yang menyemburat di ufuk timur. Kemuning padi memperindah pemandangan sisi belakang bumi Darussalam. Dari atas bukit buatan aku termenung sendirian, di bawah gazebo bambu pena hitam mulai kuayunkan, mengisi lembaran demi lembaran buku tulis yang semula putih tanpa adanya coretan.
            Burung-burung berkicauan riang, terbang bergerombol saling mengejar, sesekali hinggap di dahan pohon yang rindang. Pikiran dan tanganku bergerak seirama menciptakan sebuah karya, aku menghela nafas panjang, sesak dada ini mengenang kejadian tempo hari. Aku merasa telah gagal, amanah yang Ayah berikan tak dapat sepenuhnya aku emban. Amanah untuk menjaga adikku Isma dalam keistiqomahan, seperti yang beliau katakan sebelum meninggal. Usia kami berdua terpaut dua tahun, Isma berada di pesantren yang sama, hanya saja berbeda lokasinya. Jarak pesantren Darussalam putra dan putri adalah 100 km, seperti syarat yang dikemukakan oleh Trimurti pendiri pesantren Darussalam. Peristiwa tak menyenangkan itu bermula saat aku mengajak Fatih untuk menjenguk dek Isma di pondok putri.
Andaikata, adalah suatu keputus asaan yang nyata. Namun apalah daya, nasi yang telah menjadi bubur tidak dapat kembali dalam bentuk aslinya.
***
            Ustadz Mustaqim terdiam setelah beberapa saat naik pitam, tak henti mengintrogasi, memarahi, dan menasehati dua orang santri yang telah melanggar peraturan sekaligus melakukan kesalahan terbesar. Aku dan Fatih hanya tertunduk diam, tak ada pembelaan yang kami lontarkan jika Ustadz bagian pengasuhan itu tak memperkenankan kami untuk menjawab, karena semua itu adalah bagian dari nilai adab dan kesopanan.
            “Alif, apa kamu tahu kalau ternyata temanmu ini secara diam-diam menjalin hubungan di luar batas kewajaran dengan ADIKMU yang saat ini berada di pondok putri?” Ustadz Mustaqim menekankan satu kata yang membuat mataku terbelalak mendengarnya. Bagaikan disambar halilintar di tengah siang tanpa adanya mendung ataupun hujan. Aku terdiam, hanya mengisyaratkan gelengan sebagai jawaban.
            Hari itu, kira-kira empat tahun yang lalu, tepat seminggu setelah kami melalui ujian niha’iy atau ujian akhir KMI (Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah). Seharusnya hal seperti itu tidak terjadi, seharusnya kami sedang tak sabar untuk menanti hari kelulusan, hari dimana air mata kebahagiaan bercucuran. Sungguh bukan akhir seperti itu yang aku harapkan, menangis dalam kepedihan karena harus pulang dengan tidak terhormat, diusir karena telah melakukan maksiat. Pacaran dalam Islam adalah haram, begitu pula di pondok ini, konsekuensi bagi si pelanggar adalah DIKELUARKAN.
***
            Empat tahun sudah diri ini kuabdikan, kepada pondok yang sudah mendidikku hingga menjadi seperti sekarang. Tak cukup rasanya bila hanya melakukan pengabdian dan setelah itu pulang. Tiga hari tiga malam aku meminta petunjuk kepada Dzat Yang Maha Mendengar, bersimpuh di sepertiga malam hingga adzan subuh berkumandang.
            Ramadhan tahun ini aku pulang, senang rasanya dapat berkumpul kembali bersama mereka, keluargaku tercinta. Ibu sedang sibuk dengan Alia, buah hati Fatih dan Isma. Dua tahun setelah peristiwa pengusiran itu, mereka berdua memutuskan untuk menikah. Aku menghargai pertanggung jawaban yang Fatih berikan untuk menebus kekhilafan sekaligus mengeratkan kembali tali persahabatan yang telah renggang semenjak kejadian.
Ibu melambaikan tangannya kepadaku yang sedari tadi termangu di balik kelambu pintu ruang tengah. Aku tersenyum sembari berjalan ke arah Ibu, gurat wajahnya semakin menua, aku tak tega untuk mengutarakan niat yang telah membulat menjadi tekad.
“Ibu..”, ucapku sedikit ragu.
Iya nak, ada apa?”, jawab Ibu sembari memegang kedua tanganku.
“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Ibu sedikit penasaran.
Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan, “Alif punya cita-cita bu, cita-cita yang in syaAllah sangat mulia. Alif merasa apa yang pondok berikan kepada Alif teramat besar, tak cukup jika hanya bentuk pengabdian sebagai syarat pengambilan ijazah saja yang Alif lakukan, Alif ingin mengabdi secara keseluruhan. Jika Ibu berkenan, bolehkah Alif mewakafkan diri kepada pondok?”
Kulihat mata ibu berkaca-kaca, dielusnya kepalaku dengan penuh cinta. “Lif, Ibu bahagia sekali kamu punya cita-cita yang sangat mulia. Ayahmu pasti bangga di alam sana. Pergilah nak, Ibu tidak akan menyergah.”
Kubenamkan wajah dalam pelukan Ibu, tangis bahagia pecah diantara kami berdua. Keesokan harinya akupun kembali ke pondok setelah satu minggu lamanya menghabiskan waktu bersama keluarga.
***
Aku mematung di depan gerbang pesantren. Ke Darussalam Apa Yang Kau Cari, itulah kalimat sambutan yang terpampang di pintu gerbang, kalimat ini akan terus terpampang agar santrinya tahu, untuk apa mereka datang ke Darussalam.
Pak Kyai pernah berpesan dalam sebuah forum, “Ke Darussalam adalah untuk mencari pendidikan dan pengajaran, karena Darussalam adalah tempat pendidikan mental dan karakter. Di sinilah para santri akan dididik untuk menjadi seorang ulama’ yang intelek, bukan intelek yang tahu agama. Karena pemimpin harus mempunyai kriteria pemimpin. Darussalam mencetak kader-kader pemimpin umat untuk kejayaan bangsa, dari sinilah seorang pemimpin harus berani berkorban, berpikir keras, bekerja keras, dan berdo’a keras”.
Tepat adzan dhuhur berkumandang, para santri dengan pakaian rapi bergegas memenuhi panggilan Ilahi. Kupandang bangunan kokoh di depanku, muara pandangan yang takkan pernah lekang, akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan, mimpi yang tempo hari Allah berikan sebagai jawaban atas do’aku di sepertiga malam.
Perlahan kakiku melangkah, mendekati bangunan megah dengan susunan anak tangga tepat di bagian tengahnya. Hatiku bergetar hebat, butiran bening tertahan di pelupuk mata, inilah awal masa depan yang dahulu pernah aku cita-citakan, masa depan gemilang. “Bismillah...”, lirihku sembari memijaki satu persatu anak tangga menuju satu tempat bernuansa surga.
***
            Jam tanganku menunjukkan pukul 11 malam, angin semakin berembus kencang. Kerikan jangkrik memecah keheningan, tak ada percakapan, aku dan Fatih masih terdiam menatap langit malam.
            “Ini janji kita sepuluh tahun lalu”, aku mengeluarkan bingkisan dari balik jas hitam yang aku kenakan. Janji sepuluh tahun itu adalah saling bertukar karya karena hobi yang sama. Sebuah buku bersampul coklat muda dengan judul Segenggam Amanah kusodorkan kepada Fatih.
            “Sudah kuduga, kau memang hebat kawan”, ucapnya seraya menepuk-nepuk bahuku tanda rasa bangga. Wajah tampannya kembali cerah setelah beberapa saat merasa sangat bersalah.
            “Where is yours??”, tagihku seraya memincingkan alis.
            “In your mind”, Fatih tertawa lepas.
“Hahahaha... aku hanya bercanda Lif. Tenang, sahabatmu ini bukan orang ingkar”.
Allahumma ba’id bainaa minar riyaa’ ”, ucapku dengan ekspresi sok datar. Fatih tak henti tergelak, membuatku terpaksa meninju bahunya dengan sedikit kasar hingga ia mengaduh dan berhenti tertawa. Akhirnya ia mengeluarkan sebuah buku tebal dari ranselnya. Sepenggal Cerita Di Lorong Pesantren, buku itu bersampul biru dengan gambar masjid jami’ Darussalam terpampang di depannya, sebuah nama terukir di sisi kiri bawah, Al-Fatih.
Aku tersenyum bangga menerimanya. 
Malam ini telah menjadi saksi sebuah perjalanan, perjalanan penuh perjuangan. Banyak gelombang yang harus kami terjang, lika liku kehidupan terus menghadang, namun dengan niat dan tekad, akhirnya kami diberikan jalan sehingga dapat melewatinya dengan lapang.
-TAMAT-




















           











0 komentar:

Posting Komentar