Jumat, 13 November 2015

BENDA ITU,,,HANYA AKAN MEMBUNUH PERLAHAN

      Image result for gambar kesehatan dalam islam

      Mataku menatap langit-langit bercat putih, kipas angin tampak berputar-putar menyejukkan ruangan, bau obat yang menyengat sudah akrab dalam saluran pernapasan. Dua minggu sudah aku terbaring disini tanpa suara, kejenuhan pun mulai kurasa. Bila ingin menyalahkan, siapa yang harus aku salahkan? karena semua ini begitu cepat terjadi, bak tamu yang menerobos pintu masuk tanpa permisi. Jika harus membenci, siapa yang semestinya aku benci? tak sanggup rasanya untuk membenci diri sendiri. Kini aku hanya bisa pasrah, dan harus mensyukuri kesempatan yang Allah berikan dengan sepenuh hati.
***
      Seperti biasa, jalanan di metropolitan penuh dengan kesibukan. Kendaraan berlalu lalang, namun kemacetan belum menjadi pemandangan utama. Matahari baru menyeringaikan senyuman khas yang menghangatkan, kubuka buku di tangan lembaran demi lembaran untuk mengusir kebosanan menunggu bus yang tak jua datang. Sesekali aku tersenyum sendiri membaca novel yang diberikan seseorang tempo hari. 
           
"Uhuk, uhuk", aku terbatuk-batuk menghirup asap putih yang mengepul dari mulut seorang pria, dada ini begitu sesak ku rasa. Namun tanpa berdosa pria itu tetap menghisap batang rokok ditangannya tanpa mempedulikan kenyamanan orang-orang disekitarnya. Dan ini tidak hanya sekali saja terjadi, hampir setiap hari. Aku heran.
***
       "Pagi Ra", ucap seorang teman dengan senyuman mengembang. "Pagi Fadil", aku membalas senyumnya dengan tulus. Masih dengan jarak beberapa meter, Fadil menoleh, memandangku yang masih terfokus membaca buku. "Ira,,novelnya bagus kan?", ucapannya membuyarkan konsentrasiku. "Oh,,iya bagus, makasih ya Dil", aku begitu tersipu menjawab pertanyaan itu, pertanyaan dari teman yang sudah kuanggap seperti abang. Sepuluh tahun telah merubahnya, baik dari segi penampilan dan juga perkataan. Aku senang, karena akhirnya ia dapat meninggalkan kecanduan yang dulu pernah dia bilang "Sulit Ra, aku tidak bisa lepas dari ini", ungkapnya kepadaku dengan nada gemetar. 
      
Kertas-kertas menumpuk menjadi satu dihadapanku. Akhirnya semua pekerjaan dapat aku selesaikan. Fyuh,,,kurapikan meja dan barang-barang bersiap untuk pulang, tiba-tiba Fadil datang dan menyodorkan tas cokelat yang sedari tadi ia genggam, "Ira,,aku titip bingkisan buat Ibu kamu. Salam buat beliau, aku minta maaf karena hari ini tidak bisa datang ke rumah", Fadil berkata apa adanya. Aku mengangguk untuk meng-iyakan walaupun dalam benakku keluar beribu pertanyaan, namun pada kenyataannya aku tak sanggup mengungkapkan dan hanya akan terpendam entah sampai kapan. "Iya,,In Syaa Allah aku sampaikan", aku tersenyum sekaligus berpamitan untuk pulang. Kami pun berpisah ditengah keriuhan suasana kantor menjelang petang.
***
         Nafasku berhembus tak beraturan, dadaku begitu sesak tak tertahankan, leherku seperti tercekik. "Astaghfirullah nak,,,kamu kenapa?" Ibu sangat panik melihatku terkapar di lantai menangis-nangis menahan sakit, ingin berbicara namun tak bisa. Segera aku dilarikan kerumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan.
         
Dua hari aku berbaring tak sadarkan diri pasca operasi. Ku buka mataku perlahan, langit-langit adalah pemandangan pertama yang tertangkap mata lembam yang sudah lama terpejam. Senang rasanya bisa kembali membuka mata, walaupun pada akhirnya aku harus kehilangan satu hal yang sangat berharga. Kanker tenggorokan telah merenggut pita suara sehingga kini aku tidak lagi dapat berbicara. Sedih rasanya saat pertama kali berusaha mengucap sepatah kata untuk memanggil Ibunda, namun hasilnya malah aku menangis sejadi-jadinya. 
Aku bukanlah seorang perokok, namun mengapa aku yang harus terkena imbas dari kebiasaan yang sama sekali tidak pernah aku lakukan? Mengapa tidak mereka saja? Ingin sekali aku mengatakan ini, "Jika anda tetap ingin menghisap benda itu, mohon asapnya jangan diumbar-umbarkan karena akan merusak kesehatan, jika anda masih saja menyangkal, maka saya sarankan kepada anda untuk menelan asapnya sekalian agar anda lebih dapat 'menikmatinya'."
         
Aku banyak belajar dari pengalaman, kehilangan suara bagiku bukanlah akhir dari segalanya, meski sempat terpukul untuk pertama kalinya. Aku mengidap kanker tenggorokan karena kebiasaan yang tidak pernah aku lakukan. Aku hanyalah salah seorang yang tanpa sengaja menghirup umbaran asap dari sebuah benda yang umum dikenal, benda yang akan membunuh perlahan. Ya, rokok. Benda yang membuat Fadil kecanduan dan sulit sekali untuk melepaskan. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan menghirup udara segar, belajar dari pengalaman, aku hanya berpesan, "cukup aku yang merasakan, aku tidak ingin ada yang mengalaminya lagi, cukup aku saja yang tahu rasanya kehilangan suara."

-Dikutip dari sebuah kisah nyata- 

3 komentar:

tibbi asallamard mengatakan...

OMIGOO kisah nyataa ?

tibbi asallamard mengatakan...

lagi lagi lagi lagi lagi lagi hehehe

Unknown mengatakan...

Iya kak,,itu dari laman2 yg biasa ana liat di fb, banyak yg kayak g2

Posting Komentar