Sabtu, 14 November 2015

PENGORBANAN YANG BEGITU MAHAL

Image result for gambar orang tua dan anak pegangan tangan



Malam menyisakan kegelapan kala adzan subuh berkumandang, kedinginan menusuk hingga ke tulang, namun kewajiban harus tetap dilaksanakan karena itu adalah hutang. Adam mengambil sarung yang tergantung di balik pintu kamar dan bergegas keluar bergabung bersama para pejuang. Hidupnya kini berubah semenjak mendapat hidayah, ia sadar bahwa hidup itu penuh dengan cobaan, namun disamping itu ia juga sadar bahwa dibalik suatu kesusahan pasti ada seribu kemudahan.
***
            Kaki panjangnya melangkah lebih cepat dari biasanya, untuk kali pertama Adam terlambat pergi ke sekolah. Dahinya dibanjiri peluh, kaca matanya berembun disebabkan nafasnya yang tak beraturan, ia berlari sepanjang perjalanan. Pintu gerbang mulai ditutup, beribu permohonan ia lontarkan kepada pak satpam, namun peraturan tetaplah peraturan yang sekali ditegakkan tidak dapat tergoyahkan. SMP Putra Bangsa memang terkenal dengan disiplin dalam proses belajar mengajarnya. Wajah anak itu menyiratkan kekecewaan yang amat dalam, perjuangannya sia-sia.
            Adam menghentikan langkahnya, menatap dua jalan di hadapannya dengan seksama. Hatinya bimbang, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan ke arah kanan. Padahal setiap pulang sekolah ia selalu mengambil jalan ke arah yang berlawanan, namun kali ini hatinya memberontak, enggan untuk pulang lebih cepat.
            Para pedagang beralalu lalang, aroma makanan berkelebat di udara begitu menggoda, namun apa daya Adam hanya dapat menahan perutnya yang mulai menyalakan radar. Kejadian pagi tadi amat menyiksa batinnya, pertengkaran hebat kedua orangtua membuat Adam harus terkena imbasnya. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya untuk melegakan perasaan yang telah lama ia pendam, namun ia lebih memilih untuk diam, menahan sakit di hati yang paling dalam.
***
“Surat apa ini Adam??!!” bentak ayahnya sembari menggebrak meja. Adam hanya diam di hadapan ayahnya yang tengah murka menerima surat panggilan orang tua, tak satupun kata yang keluar dari mulutnya. “Dasar anak tidak tahu diuntung! Mau jadi apa kamu?? Sekolah saja tidak becus!” belum selesai berbicara, Ibunya datang dan menyela pembicaraan ayah yang tengah meninggikan suara. “Sudah lah, kasihan anak kita”, kata-kata ini sungguh ‘menyalakan api’, untuk kesekian kalinya Adam menyaksikan pertengkaran hebat kedua orang tua. “Ayah, Ibu, cukuuuuup”, celetuk Adam tanpa sadar, tangannya menutup kedua daun telinga, air mata mengucur dengan derasnya, ia berlari keluar rumah tak tentu arah.
Masih dengan tubuh terseok-seok, Adam berhenti di depan pelataran sebuah bangunan, bangunan yang sudah lama ia tinggalkan. Kakinya melangkah menjejaki anak tangga sebelum mencapai beranda, kedamaian dalam hatinya mulai ada.
Adam duduk bersila, kedua tangannya menengadah tanda sedang berdo’a, air mata mengucur deras dipipinya, entah do’a apa saja yang dipanjatkannya hingga tengah malam ia tak jua beranjak dari tempat duduknya. Kini isak tangisnya mulai terdengar, membuat seorang laki-laki bersoban yang sedari tadi memperhatikannya datang, duduk bersila disebelah Adam. “Ada apa dek?” ucap laki-laki itu membuka percakapan, tangan kanannya mendarat lembut di pundak Adam. Ia berusaha menyembulkan senyuman ditengah kegundahan dan kesedihan yang dirasakannya, sebuah pertanyaan ia lontarkan, “Ustad, apakah boleh kita membenci kedua orang tua?”. Lelaki paruh baya itu menepuk pundak Adam pelan, bibirnya menyiratkan senyuman, beliau menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan lawan bicaranya, “Dek, pernahkah kamu berfikir tetang sebuah pengorbanan? Kamu tahu, pengorbanan yang orang tua kamu lakukan, SELAMANYA tidak akan pernah lunas jika ingin kamu bayar. Dengar dek, yang namanya orang tua  selalu dan selalu sayang kepada anaknya, meskipun bentuk perlakuannya berbeda-beda, bahkan sekasar-kasarnya mereka sekalipun, kita tetap saja tidak boleh membenci mereka, karena ridho Allah ada pada ridho orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua. Sadarkan mereka, bukan malah meninggalkannya begitu saja. Perjuangkan kebenaran, jangan malah lari dari kenyataan. Pulanglah dek, sudah larut malam”, seperti dapat membaca pikiran Adam, laki-laki itu terus menasehati tanpa henti, Adam hanya menunduk dengan air mata berlinang penuh penyesalan.
***
            Jam dinding menunjuk angka 2, dalam kesunyian malam penyesalan mulai pasangan itu rasakan. Selama ini mereka telah menyia-nyiakan anak semata wayang yang Allah titipkan. Mereka terlalu fokus dengan pekerjaan sehingga keluarga dinomorsekiankan dan pada akhirnya hanya akan hancur berantakan apabila mereka tidak segera sadar. Kini hanya penantian yang dapat mereka lakukan, menanti kepulangan anak semata wayang. Isak tangis perempuan itu mulai terdengar, suaminya merangkul  bahunya berusaha menenangkan. Sampai akhirnya mereka terperanjat mendengar suara pintu terbuka, salam yang mendamaikan menyapa, laki-laki paruh baya berdiri disisi putra semata wayangnya. “Adaaam...”, perempuan itu menghambur memeluk Adam yang masih terpaku di depan pintu. Suaminya mengikuti dari belakang, mereka bertiga saling berpelukan, menyisakan rasa haru yang begitu dalam. Sungguh kebahagiaan itu telah kembali, kebahagiaan yang dulu sempat mereka miliki.
***
            “Dam, tunggu Ayah sebentar”, pinta ayahnya sembari mengenakan sarung. Adalah sebuah kesyukuran karena dapat menjadi salah seorang dari sedikit banjaran para pejuang. “Ayah, sebentar lagi iqomah “, seru Adam mengingatkan. Betapa bahagianya jika keutuhan dan keharmonisan keluarga tetap terjaga, karena harta benda yang melimpah sekalipun tak ada artinya dibanding keluarga.

-TAMAT-

2 komentar:

tibbi asallamard mengatakan...

feelin so deep..huhuhu

tibbi asallamard mengatakan...

feelin so deep..huhuhu

Posting Komentar