Malam menyisakan kegelapan kala adzan subuh
berkumandang, kedinginan menusuk hingga ke tulang, namun kewajiban harus tetap
dilaksanakan karena itu adalah hutang. Adam mengambil sarung yang tergantung di
balik pintu kamar dan bergegas keluar bergabung bersama para pejuang. Hidupnya
kini berubah semenjak mendapat hidayah, ia sadar bahwa hidup itu penuh dengan
cobaan, namun disamping itu ia juga sadar bahwa dibalik suatu kesusahan pasti
ada seribu kemudahan.
***
Kaki panjangnya melangkah lebih
cepat dari biasanya, untuk kali pertama Adam terlambat pergi ke sekolah.
Dahinya dibanjiri peluh, kaca matanya berembun disebabkan nafasnya yang tak
beraturan, ia berlari sepanjang perjalanan. Pintu gerbang mulai ditutup, beribu
permohonan ia lontarkan kepada pak satpam, namun peraturan tetaplah peraturan
yang sekali ditegakkan tidak dapat tergoyahkan. SMP Putra Bangsa memang
terkenal dengan disiplin dalam proses belajar mengajarnya. Wajah anak itu
menyiratkan kekecewaan yang amat dalam, perjuangannya sia-sia.
Adam menghentikan langkahnya,
menatap dua jalan di hadapannya dengan seksama. Hatinya bimbang, ia berpikir
sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan ke arah kanan.
Padahal setiap pulang sekolah ia selalu mengambil jalan ke arah yang berlawanan,
namun kali ini hatinya memberontak, enggan untuk pulang lebih cepat.
Para pedagang beralalu lalang, aroma
makanan berkelebat di udara begitu menggoda, namun apa daya Adam hanya dapat
menahan perutnya yang mulai menyalakan radar. Kejadian pagi tadi amat menyiksa
batinnya, pertengkaran hebat kedua orangtua membuat Adam harus terkena
imbasnya. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya untuk melegakan
perasaan yang telah lama ia pendam, namun ia lebih memilih untuk diam, menahan
sakit di hati yang paling dalam.
***
“Surat apa ini Adam??!!” bentak ayahnya sembari
menggebrak meja. Adam hanya diam di hadapan ayahnya yang tengah murka menerima
surat panggilan orang tua, tak satupun kata yang keluar dari mulutnya. “Dasar
anak tidak tahu diuntung! Mau jadi apa kamu?? Sekolah saja tidak becus!” belum
selesai berbicara, Ibunya datang dan menyela pembicaraan ayah yang tengah
meninggikan suara. “Sudah lah, kasihan anak kita”, kata-kata ini sungguh ‘menyalakan
api’, untuk kesekian kalinya Adam menyaksikan pertengkaran hebat kedua orang
tua. “Ayah, Ibu, cukuuuuup”, celetuk Adam tanpa sadar, tangannya menutup kedua
daun telinga, air mata mengucur dengan derasnya, ia berlari keluar rumah tak
tentu arah.
Masih dengan tubuh terseok-seok, Adam berhenti di
depan pelataran sebuah bangunan, bangunan yang sudah lama ia tinggalkan. Kakinya
melangkah menjejaki anak tangga sebelum mencapai beranda, kedamaian dalam
hatinya mulai ada.
Adam duduk bersila, kedua tangannya menengadah tanda
sedang berdo’a, air mata mengucur deras dipipinya, entah do’a apa saja yang
dipanjatkannya hingga tengah malam ia tak jua beranjak dari tempat duduknya.
Kini isak tangisnya mulai terdengar, membuat seorang laki-laki bersoban yang
sedari tadi memperhatikannya datang, duduk bersila disebelah Adam. “Ada apa
dek?” ucap laki-laki itu membuka percakapan, tangan kanannya mendarat lembut di
pundak Adam. Ia berusaha menyembulkan senyuman ditengah kegundahan dan kesedihan
yang dirasakannya, sebuah pertanyaan ia lontarkan, “Ustad, apakah boleh kita
membenci kedua orang tua?”. Lelaki paruh baya itu menepuk pundak Adam pelan,
bibirnya menyiratkan senyuman, beliau menarik nafas panjang sebelum menjawab
pertanyaan lawan bicaranya, “Dek, pernahkah kamu berfikir tetang sebuah
pengorbanan? Kamu tahu, pengorbanan yang orang tua kamu lakukan, SELAMANYA
tidak akan pernah lunas jika ingin kamu bayar. Dengar dek, yang namanya orang
tua selalu dan selalu sayang kepada
anaknya, meskipun bentuk perlakuannya berbeda-beda, bahkan sekasar-kasarnya
mereka sekalipun, kita tetap saja tidak boleh membenci mereka, karena ridho
Allah ada pada ridho orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang
tua. Sadarkan mereka, bukan malah meninggalkannya begitu saja. Perjuangkan
kebenaran, jangan malah lari dari kenyataan. Pulanglah dek, sudah larut malam”,
seperti dapat membaca pikiran Adam, laki-laki itu terus menasehati tanpa henti,
Adam hanya menunduk dengan air mata berlinang penuh penyesalan.
***
Jam dinding menunjuk angka 2, dalam
kesunyian malam penyesalan mulai pasangan itu rasakan. Selama ini mereka telah
menyia-nyiakan anak semata wayang yang Allah titipkan. Mereka terlalu fokus
dengan pekerjaan sehingga keluarga dinomorsekiankan dan pada akhirnya hanya
akan hancur berantakan apabila mereka tidak segera sadar. Kini hanya penantian
yang dapat mereka lakukan, menanti kepulangan anak semata wayang. Isak tangis perempuan
itu mulai terdengar, suaminya merangkul
bahunya berusaha menenangkan. Sampai akhirnya mereka terperanjat
mendengar suara pintu terbuka, salam yang mendamaikan menyapa, laki-laki paruh
baya berdiri disisi putra semata wayangnya. “Adaaam...”, perempuan itu
menghambur memeluk Adam yang masih terpaku di depan pintu. Suaminya mengikuti
dari belakang, mereka bertiga saling berpelukan, menyisakan rasa haru yang
begitu dalam. Sungguh kebahagiaan itu telah kembali, kebahagiaan yang dulu
sempat mereka miliki.
***
“Dam, tunggu Ayah sebentar”, pinta
ayahnya sembari mengenakan sarung. Adalah sebuah kesyukuran karena dapat
menjadi salah seorang dari sedikit banjaran para pejuang. “Ayah, sebentar lagi
iqomah “, seru Adam mengingatkan. Betapa bahagianya jika keutuhan dan
keharmonisan keluarga tetap terjaga, karena harta benda yang melimpah sekalipun
tak ada artinya dibanding keluarga.
-TAMAT-
2 komentar:
feelin so deep..huhuhu
feelin so deep..huhuhu
Posting Komentar