Kamis, 22 Oktober 2015

DERAI MUTIARA DI KEBUN BUNGA

            Sang mentari mulai menampakkan sinarnya. Udara pagi musim semi ini begitu menyejukkan hati meskipun dingin masih menyelimuti. Ya, hari pertama musim semi setelah dua bulan kota Istanbul terbalut salju. Es-es yang mulai mencair mengiringi perjalananku menuju puncak tertinggi di Istanbul. Dengan penuh semangat, kutenteng kanvas dan tas jinjing berisikan alat-alat yang selalu menemani hari-hari semenjak datang ke kota ini satu tahun yang lalu.
            Hamparan selat Bosphorus yang terlihat dari bukit Camlica, puncak tertinggi di kota Istanbul, menjadi maskot pemandangan spektakuler Negeri Seribu Masjid Eropa. Kuambil tempat yang paling strategis agar aku tak melewatkan pemandangan luar biasa yang telah ku nanti selama tiga bulan ini.
Kumpulan bunga tulip dengan aneka warna bergoyang terhempas angin nan sayu, tampak rerumputan hijau berkilau bak mutiara, sungguh nikmat Allah yang tiada tara, yang menciptakan bumi begitu indah mempesona apalagi surga-Nya? Subhanallah. Kugoreskan kuas diatas kanvas dengan penuh semangat, tidak salah apa yang Bang Anton katakan tentang kehadiran musim semi, musim yang begitu ia rindukan sebelum kepulangannya ke Indonesia dan sebelum ia menghadap Robbnya.
***
            “Rif, satu hal yang sangat aku rindukan dari Negeri Peradaban ini, hal yang mungkin tidak akan pernah aku lihat kembali adalah awal musim semi. Jaga dirimu baik-baik, karena belajar tidak hanya dikelas, kalau seandainya pohon itu dijadikan kuas dan lautan dijadikan tinta untuk menulus ilmu Allah, niscaya tidak akan pernah cukup.” Nasehat Bang Anton yang hingga saat ini masih terngiang dan sampai kapanpun takkan pernah aku lupakan. Itulah pertemuan terakhir kami di Bandara Attaturk sebelum akhirnya pesawat yang ditumpanginya mendarat darurat dan meledak seketika sebelum roda pesawat menyentuh tanah di Bandara Singapura.
            Hatiku sangat sedih karena ternyata kata-kata itu adalah nasehat terakhirnya. Semenjak saat itu, aku selalu berusaha untuk mensyukuri dan menikmati segala sesuatu yang aku miliki saat ini sebelum aku kembali kepada Illahi Robbi.
***
            “Done!..” sontakku sambil menghela nafas panjang. Kini matahari mulai terbenam, menandakan bahwa siang mulai berganti malam. Langit memancarkan cahaya orange keungu-unguan menghiasi bukit Camlica. Hamparan selat Bosphorus melingkar bak kalung yang melingkar mengelilingi kota Istanbul. Pemandangan semakin menakjubkan dengan semburat mega di ufuk barat setelah terbenamnya matahari.
Tak kulewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen ini, kuambil kamera dari balik saku celanaku. Kuperiksa hasil jepretan pertamaku, ada yang aneh, terlihat sosok wanita bercadar berdiri di tengah taman yang sudah sepi. Kualihkan pandanganku kearahnya, ku lepas kacamata dan mulai menyipitkan mataku untuk memperjelas pandangan, ia tampak sedang kebingungan.
Kulangkahkan kaki ini untuk menghampirinya, “Assalamu’alaikum” ucapku. “Wa’alaikoemu assalam” jawabnya dengan logat khas Turki. “I look u very worry, am i right?” tanyaku kepadanya. “Ingilizce konuşamıyorum, Türkçe konuşabilir misin? (Saya tidak bisa Bahasa Inggris, bisakah anda berbicara dalam Bahasa Turki?) pintanya penuh harap. “Ben doğru neyim, sen çok endişeli olduğunu görmek? (Saya lihat anda sangat gelisah, apa saya benar?)” tanyaku dalam bahasa Turki yang sudah lumayan aku kuasai satu tahun ini. “Burası benim ilk kez, şimdi ben karıştı ne yapacağımı bir rehber geride bıraktı?(Ini adalah pertama kalinya saya ketempat ini, dan kini saya tertinggal rombongan, saya bingung, apa yang harus saya lakukan?) ucapnya dengan nada cemas. Aku kasihan padanya, betapa berdosanya apabila ku tinggalkan ia sendirian di bukit yang sudah sepi ini. “Nerede yaşıyorsun? Eğer sakıncası yoksa belki seni eve alabilir. (Anda tinggal dimana? mungkin saya dapat mengantarkan anda pulang kalau anda tidak keberatan)” ucapku menawarkan bantuan.
Hari sudah gelap, ia berjalan di belakang mengikuti langkah kakiku yang panjang. Kami diam seribu bahasa, mulutku tak dapat berkata-kata, hanya suara langkah sepatuku yang mengiringi perjalanan kami menyusuri jalanan bukit yang sudah sepi.
***
Suasana kampus mulai ramai, hal ini menandakan bahwa aku harus membereskan alat lukisku dan bergegas masuk kelas. Aku beruntung karena tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk kuliah di Universitas Internasional Istanbul, mengingat keluargaku bukanlah keluarga yang mampu. Namun itu bukan kendala bagi seseorang untuk meraih kesuksesan, asal ada kemauan, pasti akan ada jalan, walaupun terkadang banyak rintangan yang menghadang, disitulah terdapat kemudahan apabila didasarkan dengan kesungguhan, kesabaran, kesadaran dan keistiqomahan.
            Para mahasiswa berdatangan memenuhi ruang kelas, kulangkahkan kakiku menuju bangku yang masih kosong nomor dua dari belakang. “Thanks a lot for u’r help” katanya terbata-bata dalam Bahasa Inggris. Aku yang sedang mengeluarkan isi tasku sontak menoleh kepada wanita bercadar yang duduk didepanku. “Aa,, your welcome, but for what?” ucapku dengan nada bingung. “Do u remember in Camlica Hill? I’m Zahraa’, women u help in that day” jelasnya padaku untuk meyakinkan. “Ah,, ya I remember, we meet again but in another way.” candaku ramah, aku tidak percaya kami dapat bertemu kembali setelah dua mingu berlalu di bukit Camlica. Fatimah Az-zahraa’ saat ini tercatat sebagai mahasiswi pindahan dari salah satu Universitas Thailand jurusan seni rupa. Ia belum lama pindah ke tanah kelahirannya dan masuk ke jurusan seni rupa Universitas Internasional Intanbul. Kami berdua mempunyai bakat dan hobi yang sama, melukis panorama keindahan alam semesta.
***
            Rutinitas pagi yang selalu kulakukan adalah berangkat ke kampus lebih awal dari mahasiswa lain pada umumnya. Kunikmati udara pagi, semilir angin yang berhembus menemani keberangkatanku menuju halte bus. Kulihat jarum jam masih menunjukkan pukul enam dini hari. Perjalanan yang kutempuh lumayan jauh dan cukup memakan waktu.
            Rerumputan hijau taman kampus menari menyambut kedatanganku, embun-embun berkilauan bak kristal yang bersinar dalam kegelapan terkena pancaran sinar matahari yang mulai menampakkan diri. Bunga tulip menghiasi setiap sudut taman, menambah keindahan suasanya kampus yang rindang dengan pepohonan menjulang.
            Aku terdiam sejenak, sesaat terlintas dipikiranku pesan ibu via telepon dua hari yang lalu. Dengan semakin bertambahnya usia, sudah saatnya bagiku memikirkan masa depan, masa dimana aku akan menjadi imam, menjadi panutan bagi keluarga yang akan kubangun dalam bahtera rumah tangga dibawah naungan  keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
***
            Zahraa’ duduk termangu di balkon rumahnya, mata birunya menerawang jauh memandangi langit yang bertaburkan bintang. Hatinya sedang gundah, di usianya yang menginjak 26, ia belum juga dipertemukan dengan jodohnya. Ia menghela nafas panjang, terbesit dihatinya untuk meminta bantuan guru ngajinya untuk membantunya memilih calon imam yang baik untuknya dengan proses ta’aruf pengajuan biodata diri yang akan ditukarkan kepada ikhwan yang memiliki tujuan sama. Hatinya terasa sedikit lega, cadarnya tersibak angin malam, dinginnya menusuk kulit. Diambilnya air wudhu dan digelarnya sajadah disamping tempat tidurnya.
Malam panjang ini ia habiskan untuk berdo’a memohon kepada Rabbnya, tersimpuh dihadapan-Nya mengingat bahwa ia hanyalah seorang hamba yang jauh dari kata sempurna, namun ia terus berusaha menjadi wanita shalihah dambaan surga. Bibir merahnya tak berhenti mengucap dzikir hingga adzan subuh berkumandang saat fajar tiba.
***
            Hari ini adalah hari libur, niatku hari ini adalah pergi ke rumah guru pembimbing agamaku di Istanbul, Syeikh Ali Hamzah. Selama ini beliau aktif berdakwah kepada umat Islam di Istanbul dengan jadwal terpisah antara ikhwan dan akhwat. Kuutarakan niatku kepada beliau untuk menikah, aku memohon bantuan beliau agar tetap istiqomah dan tidak terjebak dalam niatan pernikahan yang berlandaskan nafsu. Tetapi aku hanya ingin menikah untuk mengharap keridhoan Allah semata. Beliau tersenyum menanggapi niatku “Alhamdulillah, you are lucky, two days before there was a sister who have some intention as you, maybe you want to get acquaninted with these sister, she was Turkey veiled, Insyaallah according for you. May Allah blees you.” Hatiku merasa tenang, semoga akhwat ini adalah jodoh yang telah Allah tetapkan kepadaku, yang tidak hanya bersama hingga ajal yang memisahkan kami berdua, namun juga dapat bersama di kehidupan selanjutnya. Amin.
***
            Kupakai kemeja berwarna biru, celana hitam dan kacamata tak lupa aku kenakan. Kutatap wajahku didepan cermin, jantungku berdegup kencang, istikhoroh yang telah kujalankan belum juga mendapat jawaban, namun hati ini kumantapkan, kini hanya dapat kupasrahkan, biarlah hasilnya Allah yang menentukan.
            Kulangkahkan kakiku menuju rumah Syeikh Ali Hamzah yang tak jauh dari halte bus yang kutumpangi. Jantungku makin berdebar tak menentu, hatiku tak henti-hentinya menyebut nama Allah agar lebih tenang. Hari ini proses ta’aruf akan dilangsungkan di kediaman Syeikh Ali, ta’aruf pertama yang hanya melibatkan aku dan sang akhwat beserta pendamping masing-masing dari kami. Kutekan bel di depan pintu rumah dengan gaya arsitektur khas perumahan elite Turki, tak lama aku menunggu seorang wanita bercadar mempersilahkanku masuk, beliau adalah istri Syeikh Ali. “Assalamu’alaikum” ucapku seraya memasuki pintu. “Wa’alaikoemu assalam” jawab para tamu serentak dengan senyuman merekah diwajah mereka menyambut kedatanganku. Aku duduk disamping Syeikh Ali berhadapan dengan sang akhwat, kupandang sekilas wanita bercadar di depanku. Sejenak sepertinya aku mengenalinya, namanya memang Fatimah Az-zahraa’, tetapi mungkinkah ia Zahraa’ yang aku kenal?
Prosesi ta’arufpun dimulai, Syeikh Ali membuka percakapan diantara kami, penjelasan demi penjelasan kusimak dengan seksama, betapa terkejutnya diriku kalau ternyata memang benar bahwa sang akhwat adalah Zahraa’ yang aku kenal. Laahaula wa laa quwwata illa billah, betapa indahnya skenario yang Allah buat dalam mempertemukan kami berdua. Syeikh Ali meminta Zahraa’ untuk membuka cadarnya agar ta’aruf dapat dilanjutkan. Subhanallah, ternyata dibalik cadarnya tersimpan wajah yang sangat menawan, hidungnya mancung, matanya biru, bibirnya tipis dengan lesung pipi yang menghiasi senyuman indah diwajahnya. Aku yakin semua lelaki akan terpana melihat keindahan wajah yang bersinar bak mutiara dibalik cadarnya.
Tak terasa dua jam berlalu begitu cepat, Alhamdulillah ta’aruf berjalan lancar. Dua bulan kedepan Insyaallah aku akan meminta Zahraa’ kepada orangtuanya, semoga Allah meridhoi niat suci kami berdua untuk menyempurnakan agama.  
***
            Sepulang kuliah, aku mengajak Zahraa’ dan Amira, sepupunya untuk bersama-sama ke bukit Camlica, tempat pertama kalinya aku bertemu Zahraa’. Tak terasa dua minggu lagi waktu khitbah akan tiba, aku semakin dekat dengan Zahraa’ dan keluarganya. Kami sering pergi namun tidak berdua saja, selalu ada orang ketiga yang tak lain adalah sepupu Zahraa’, Amira. Ta’aruf dalam Islam berbeda dengan pacaran yang katanya bermodal cinta namun tak tahu arti cinta yang sebenarnya, yang hanya mengumbar janji tetapi belum tentu dapat memenuhi.
            Panorama sunset di Camlica memang sangat menggugah jiwa, seperti sebelumnya, kuabadikan momen indah ini agar dapat menjadi kenangan yang akan bercerita mengenai kisah pertemuanku dengan Zahraa’ yang akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta karena Allah Ta’ala.
***
            Hari berganti hari, tak terasa kini tinggal tiga hari menjelang hari-H khitbah. Badanku terasa begitu lemah, demam tinggi sejak pagi tadi membuatku terpaksa absen kuliah. Hawa dingin menusuk pori-pori, aku baru ingat kalau belum sholat isya’. Kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu.
            Tubuhku yang sempoyongan berdiri diatas sajadah merah, namun tidak seperti sholatku pada umumnya. Kali ini aku merasakan hal yang sangat luar biasa, hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku menangis sesenggukan sebelum memulai sholat isya’, roka’at pertama air mataku terus mengalir, badan yang semula berat tiba-tiba terasa begitu ringan pada roka’at kedua, ketiga hingga pada roka’at keempat, semilir angin dengan bau harum semerbak lewat di depan wajahku. Aku mendengar suara derap langkah yang menggema dari luar flat dan mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Aku sadar bahwa waktuku untuk menghadap Sang Pencipta telah tiba. Kuletakkan kepala diatas sajadah, inilah sujud terindah, sujud terakhir yang husnul khotimah. Aku sangat bahagia karena kembali kepada-Nya dalam keadaan bersimpuh merendahkan diri dihadapan-Nya sebagai hamba-Nya yang selalu bertakwa dan mentaati segala perintah-Nya.
            Kini terjawab sudah do’a istikhorohku bahwa Allah tidak menetapkan jodohku di dunia, tetapi Ia telah menyiapkan bidadari-bidadari surga untuk menyambut siapa saja yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Kenikmatan yang tiada tara, kebahagiaan yang kekal abadi selamanya dan dirindukan semua umat manusia yang beriman kepada Allah Ta’ala, ialah Surga.
-THE END-








2 komentar:

tibbi asallamard mengatakan...

kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen !!!!!!!! subhanallah gak bosen deh baca cerpennya..

Unknown mengatakan...

Makasih kak,,, :)

Posting Komentar