DERAI MUTIARA DI KEBUN BUNGA
Sang
mentari mulai menampakkan sinarnya. Udara pagi musim semi ini begitu
menyejukkan hati meskipun dingin masih menyelimuti. Ya, hari pertama musim semi
setelah dua bulan kota Istanbul terbalut salju. Es-es yang mulai mencair
mengiringi perjalananku menuju puncak tertinggi di Istanbul. Dengan penuh
semangat, kutenteng kanvas dan tas jinjing berisikan alat-alat yang selalu
menemani hari-hari semenjak datang ke kota ini satu tahun yang lalu.
Hamparan
selat Bosphorus yang terlihat dari bukit Camlica, puncak tertinggi di kota
Istanbul, menjadi maskot pemandangan spektakuler Negeri Seribu Masjid Eropa. Kuambil
tempat yang paling strategis agar aku tak melewatkan pemandangan luar biasa yang
telah ku nanti selama tiga bulan ini.
Kumpulan bunga
tulip dengan aneka warna bergoyang terhempas angin nan sayu, tampak rerumputan
hijau berkilau bak mutiara, sungguh nikmat Allah yang tiada tara, yang
menciptakan bumi begitu indah mempesona apalagi surga-Nya? Subhanallah.
Kugoreskan kuas diatas kanvas dengan penuh semangat, tidak salah apa yang Bang
Anton katakan tentang kehadiran musim semi, musim yang begitu ia rindukan
sebelum kepulangannya ke Indonesia dan sebelum ia menghadap Robbnya.
***
“Rif,
satu hal yang sangat aku rindukan dari Negeri Peradaban ini, hal yang mungkin
tidak akan pernah aku lihat kembali adalah awal musim semi. Jaga dirimu
baik-baik, karena belajar tidak hanya dikelas, kalau seandainya pohon itu
dijadikan kuas dan lautan dijadikan tinta untuk menulus ilmu Allah, niscaya
tidak akan pernah cukup.” Nasehat Bang Anton yang hingga saat ini masih
terngiang dan sampai kapanpun takkan pernah aku lupakan. Itulah pertemuan
terakhir kami di Bandara Attaturk sebelum akhirnya pesawat yang ditumpanginya
mendarat darurat dan meledak seketika sebelum roda pesawat menyentuh tanah di
Bandara Singapura.
Hatiku
sangat sedih karena ternyata kata-kata itu adalah nasehat terakhirnya. Semenjak
saat itu, aku selalu berusaha untuk mensyukuri dan menikmati segala sesuatu
yang aku miliki saat ini sebelum aku kembali kepada Illahi Robbi.
***
“Done!..”
sontakku sambil menghela nafas panjang. Kini matahari mulai terbenam, menandakan
bahwa siang mulai berganti malam. Langit memancarkan cahaya orange
keungu-unguan menghiasi bukit Camlica. Hamparan selat Bosphorus melingkar bak
kalung yang melingkar mengelilingi kota Istanbul. Pemandangan semakin menakjubkan
dengan semburat mega di ufuk barat setelah terbenamnya matahari.
Tak kulewatkan
kesempatan untuk mengabadikan momen ini, kuambil kamera dari balik saku
celanaku. Kuperiksa hasil jepretan pertamaku, ada yang aneh, terlihat sosok
wanita bercadar berdiri di tengah taman yang sudah sepi. Kualihkan pandanganku
kearahnya, ku lepas kacamata dan mulai menyipitkan mataku untuk memperjelas
pandangan, ia tampak sedang kebingungan.
Kulangkahkan
kaki ini untuk menghampirinya, “Assalamu’alaikum” ucapku. “Wa’alaikoemu
assalam” jawabnya dengan logat khas Turki. “I look u very worry, am i right?”
tanyaku kepadanya. “Ingilizce konuşamıyorum, Türkçe konuşabilir misin? (Saya
tidak bisa Bahasa Inggris, bisakah anda berbicara dalam Bahasa Turki?)
pintanya penuh harap. “Ben doğru neyim, sen çok endişeli olduğunu görmek? (Saya
lihat anda sangat gelisah, apa saya benar?)” tanyaku dalam bahasa Turki
yang sudah lumayan aku kuasai satu tahun ini. “Burası benim ilk kez, şimdi
ben karıştı ne yapacağımı bir rehber geride bıraktı?(Ini adalah pertama kalinya
saya ketempat ini, dan kini saya tertinggal rombongan, saya bingung, apa yang
harus saya lakukan?) ucapnya dengan nada cemas. Aku kasihan padanya, betapa
berdosanya apabila ku tinggalkan ia sendirian di bukit yang sudah sepi ini. “Nerede
yaşıyorsun? Eğer sakıncası yoksa belki seni eve alabilir. (Anda tinggal dimana?
mungkin saya dapat mengantarkan anda pulang kalau anda tidak keberatan)” ucapku
menawarkan bantuan.
Hari sudah
gelap, ia berjalan di belakang mengikuti langkah kakiku yang panjang. Kami diam
seribu bahasa, mulutku tak dapat berkata-kata, hanya suara langkah sepatuku
yang mengiringi perjalanan kami menyusuri jalanan bukit yang sudah sepi.
***
Suasana kampus
mulai ramai, hal ini menandakan bahwa aku harus membereskan alat lukisku dan
bergegas masuk kelas. Aku beruntung karena tidak mengeluarkan uang sepeserpun
untuk kuliah di Universitas Internasional Istanbul, mengingat keluargaku bukanlah
keluarga yang mampu. Namun itu bukan kendala bagi seseorang untuk meraih kesuksesan,
asal ada kemauan, pasti akan ada jalan, walaupun terkadang banyak rintangan
yang menghadang, disitulah terdapat kemudahan apabila didasarkan dengan
kesungguhan, kesabaran, kesadaran dan keistiqomahan.
Para
mahasiswa berdatangan memenuhi ruang kelas, kulangkahkan kakiku menuju bangku
yang masih kosong nomor dua dari belakang. “Thanks a lot for u’r help”
katanya terbata-bata dalam Bahasa Inggris. Aku yang sedang mengeluarkan isi
tasku sontak menoleh kepada wanita bercadar yang duduk didepanku. “Aa,, your
welcome, but for what?” ucapku dengan nada bingung. “Do u remember in
Camlica Hill? I’m Zahraa’, women u help in that day” jelasnya padaku untuk
meyakinkan. “Ah,, ya I remember, we meet again but in another way.”
candaku ramah, aku tidak percaya kami dapat bertemu kembali setelah dua mingu
berlalu di bukit Camlica. Fatimah Az-zahraa’ saat ini tercatat sebagai
mahasiswi pindahan dari salah satu Universitas Thailand jurusan seni rupa. Ia
belum lama pindah ke tanah kelahirannya dan masuk ke jurusan seni rupa
Universitas Internasional Intanbul. Kami berdua mempunyai bakat dan hobi yang
sama, melukis panorama keindahan alam semesta.
***
Rutinitas
pagi yang selalu kulakukan adalah berangkat ke kampus lebih awal dari mahasiswa
lain pada umumnya. Kunikmati udara pagi, semilir angin yang berhembus menemani
keberangkatanku menuju halte bus. Kulihat jarum jam masih menunjukkan pukul
enam dini hari. Perjalanan yang kutempuh lumayan jauh dan cukup memakan waktu.
Rerumputan
hijau taman kampus menari menyambut kedatanganku, embun-embun berkilauan bak
kristal yang bersinar dalam kegelapan terkena pancaran sinar matahari yang
mulai menampakkan diri. Bunga tulip menghiasi setiap sudut taman, menambah
keindahan suasanya kampus yang rindang dengan pepohonan menjulang.
Aku
terdiam sejenak, sesaat terlintas dipikiranku pesan ibu via telepon dua hari
yang lalu. Dengan semakin bertambahnya usia, sudah saatnya bagiku memikirkan
masa depan, masa dimana aku akan menjadi imam, menjadi panutan bagi keluarga
yang akan kubangun dalam bahtera rumah tangga dibawah naungan keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
***
Zahraa’
duduk termangu di balkon rumahnya, mata birunya menerawang jauh memandangi
langit yang bertaburkan bintang. Hatinya sedang gundah, di usianya yang
menginjak 26, ia belum juga dipertemukan dengan jodohnya. Ia menghela nafas
panjang, terbesit dihatinya untuk meminta bantuan guru ngajinya untuk
membantunya memilih calon imam yang baik untuknya dengan proses ta’aruf pengajuan
biodata diri yang akan ditukarkan kepada ikhwan yang memiliki tujuan sama.
Hatinya terasa sedikit lega, cadarnya tersibak angin malam, dinginnya menusuk
kulit. Diambilnya air wudhu dan digelarnya sajadah disamping tempat tidurnya.
Malam panjang
ini ia habiskan untuk berdo’a memohon kepada Rabbnya, tersimpuh
dihadapan-Nya mengingat bahwa ia hanyalah seorang hamba yang jauh dari kata
sempurna, namun ia terus berusaha menjadi wanita shalihah dambaan surga. Bibir
merahnya tak berhenti mengucap dzikir hingga adzan subuh berkumandang saat
fajar tiba.
***
Hari
ini adalah hari libur, niatku hari ini adalah pergi ke rumah guru pembimbing
agamaku di Istanbul, Syeikh Ali Hamzah. Selama ini beliau aktif berdakwah
kepada umat Islam di Istanbul dengan jadwal terpisah antara ikhwan dan akhwat.
Kuutarakan niatku kepada beliau untuk menikah, aku memohon bantuan beliau agar
tetap istiqomah dan tidak terjebak dalam niatan pernikahan yang berlandaskan
nafsu. Tetapi aku hanya ingin menikah untuk mengharap keridhoan Allah semata.
Beliau tersenyum menanggapi niatku “Alhamdulillah, you are lucky, two days
before there was a sister who have some intention as you, maybe you want to get
acquaninted with these sister, she was Turkey veiled, Insyaallah according for
you. May Allah blees you.” Hatiku merasa tenang, semoga akhwat ini
adalah jodoh yang telah Allah tetapkan kepadaku, yang tidak hanya bersama hingga
ajal yang memisahkan kami berdua, namun juga dapat bersama di kehidupan selanjutnya.
Amin.
***
Kupakai
kemeja berwarna biru, celana hitam dan kacamata tak lupa aku kenakan. Kutatap
wajahku didepan cermin, jantungku berdegup kencang, istikhoroh yang telah
kujalankan belum juga mendapat jawaban, namun hati ini kumantapkan, kini hanya
dapat kupasrahkan, biarlah hasilnya Allah yang menentukan.
Kulangkahkan
kakiku menuju rumah Syeikh Ali Hamzah yang tak jauh dari halte bus yang
kutumpangi. Jantungku makin berdebar tak menentu, hatiku tak henti-hentinya
menyebut nama Allah agar lebih tenang. Hari ini proses ta’aruf akan
dilangsungkan di kediaman Syeikh Ali, ta’aruf pertama yang hanya melibatkan aku
dan sang akhwat beserta pendamping masing-masing dari kami. Kutekan bel di
depan pintu rumah dengan gaya arsitektur khas perumahan elite Turki, tak lama
aku menunggu seorang wanita bercadar mempersilahkanku masuk, beliau adalah
istri Syeikh Ali. “Assalamu’alaikum” ucapku seraya memasuki pintu. “Wa’alaikoemu
assalam” jawab para tamu serentak dengan senyuman merekah diwajah mereka
menyambut kedatanganku. Aku duduk disamping Syeikh Ali berhadapan dengan sang akhwat,
kupandang sekilas wanita bercadar di depanku. Sejenak sepertinya aku
mengenalinya, namanya memang Fatimah Az-zahraa’, tetapi mungkinkah ia Zahraa’
yang aku kenal?
Prosesi ta’arufpun
dimulai, Syeikh Ali membuka percakapan diantara kami, penjelasan demi
penjelasan kusimak dengan seksama, betapa terkejutnya diriku kalau ternyata
memang benar bahwa sang akhwat adalah Zahraa’ yang aku kenal. Laahaula
wa laa quwwata illa billah, betapa indahnya skenario yang Allah buat dalam
mempertemukan kami berdua. Syeikh Ali meminta Zahraa’ untuk membuka cadarnya
agar ta’aruf dapat dilanjutkan. Subhanallah, ternyata dibalik cadarnya
tersimpan wajah yang sangat menawan, hidungnya mancung, matanya biru, bibirnya
tipis dengan lesung pipi yang menghiasi senyuman indah diwajahnya. Aku yakin
semua lelaki akan terpana melihat keindahan wajah yang bersinar bak mutiara
dibalik cadarnya.
Tak terasa dua
jam berlalu begitu cepat, Alhamdulillah ta’aruf berjalan lancar. Dua
bulan kedepan Insyaallah aku akan meminta Zahraa’ kepada orangtuanya,
semoga Allah meridhoi niat suci kami berdua untuk menyempurnakan agama.
***
Sepulang
kuliah, aku mengajak Zahraa’ dan Amira, sepupunya untuk bersama-sama ke bukit Camlica,
tempat pertama kalinya aku bertemu Zahraa’. Tak terasa dua minggu lagi waktu
khitbah akan tiba, aku semakin dekat dengan Zahraa’ dan keluarganya. Kami
sering pergi namun tidak berdua saja, selalu ada orang ketiga yang tak lain
adalah sepupu Zahraa’, Amira. Ta’aruf dalam Islam berbeda dengan pacaran yang
katanya bermodal cinta namun tak tahu arti cinta yang sebenarnya, yang hanya
mengumbar janji tetapi belum tentu dapat memenuhi.
Panorama
sunset di Camlica memang sangat menggugah jiwa, seperti sebelumnya,
kuabadikan momen indah ini agar dapat menjadi kenangan yang akan bercerita
mengenai kisah pertemuanku dengan Zahraa’ yang akhirnya menumbuhkan benih-benih
cinta karena Allah Ta’ala.
***
Hari
berganti hari, tak terasa kini tinggal tiga hari menjelang hari-H khitbah. Badanku
terasa begitu lemah, demam tinggi sejak pagi tadi membuatku terpaksa absen
kuliah. Hawa dingin menusuk pori-pori, aku baru ingat kalau belum sholat isya’.
Kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu.
Tubuhku
yang sempoyongan berdiri diatas sajadah merah, namun tidak seperti
sholatku pada umumnya. Kali ini aku merasakan hal yang sangat luar biasa, hal
yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku menangis sesenggukan sebelum memulai
sholat isya’, roka’at pertama air mataku terus mengalir, badan yang semula
berat tiba-tiba terasa begitu ringan pada roka’at kedua, ketiga hingga pada
roka’at keempat, semilir angin dengan bau harum semerbak lewat di depan
wajahku. Aku mendengar suara derap langkah yang menggema dari luar flat dan mengetuk
pintu seraya mengucapkan salam. Aku sadar bahwa waktuku untuk menghadap Sang
Pencipta telah tiba. Kuletakkan kepala diatas sajadah, inilah sujud terindah,
sujud terakhir yang husnul khotimah. Aku sangat bahagia karena kembali
kepada-Nya dalam keadaan bersimpuh merendahkan diri dihadapan-Nya sebagai
hamba-Nya yang selalu bertakwa dan mentaati segala perintah-Nya.
Kini
terjawab sudah do’a istikhorohku bahwa Allah tidak menetapkan jodohku di dunia,
tetapi Ia telah menyiapkan bidadari-bidadari surga untuk menyambut siapa saja
yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Kenikmatan yang tiada tara, kebahagiaan yang
kekal abadi selamanya dan dirindukan semua umat manusia yang beriman kepada
Allah Ta’ala, ialah Surga.
-THE END-
2 komentar:
kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen !!!!!!!! subhanallah gak bosen deh baca cerpennya..
Makasih kak,,, :)
Posting Komentar