Jumat, 23 Oktober 2015

TETAP GARUDA DIMANAPUN NEGARANYA

Saat perjalanan kembali ke Pesantren, sebuah mobil bak terbuka dengan nomor polisi R 3074 DH menyalip mobil keluarga saya seraya membunyikan klakson. Plat nomor Kabupaten  Banjarnegara. Tiba-tiba Ayah yang duduk di jok depan nyeletuk “mobile wong mbanjar kae, sapa ya? Wis kaya wonge dewek nek ketemu nang gon seng adoh (mobil orang Banjar (Banjarnegara) itu, siapa ya? Sudah seperti keluarga sendiri ketika bertemu (orang dari daerah yang sama) di tempat jauh.” Pengalaman ini membuat saya pribadi berpikir, bahwa dimanapun saya berada rasanya sangat berbeda dengan lingkungan tempat saya dibesarkan, karena saya pribadi merasakan tinggal di kota yang jauh dari tempat tinggal orang tua. Rasanya senang sekali ketika dapat berjumpa kawan seperjuangan di daerah perantauan dari daerah asal saya, padahal kami tidak kenal sebelumnya. Alhamdulillah hingga saat ini hubungan kami sudah seperti keluarga sendiri, dahulu ketika saya sedang tidak betah-betahnya, dialah tempat pelabuhan rasa rindu saya terhadap keluarga, dialah sahabat yang mengerti saya karena dia juga merasakan hal yang serupa.
Sekarang kita mulai pembahasan dengan rentetan pertanyaan yang akan saya lontarkan. Pernahkah anda membayangkan hidup di lain negara dengan menyandang ‘gelar’ Tenaga Kerja Indonesia atau Tenaga Kerja Wanita? Dengan warga dan lingkungan yang bedanya 360O dari Indonesia? Dan hidup sebatangkara jauh dari keluarga? Mungkin yang terbayang bagi anda yang belum pernah merasakan adalah kenikmatan hidup di negeri orang yang teknologinya mumpuni dan jauh lebih maju dari negara sendiri. Namun apakah benar yang mereka rasakan seperti yang anda semua bayangkan? Mungkin iya, apabila tujuan ke luar negerinya untuk vacation atau liburan. Namun tidak, bagi mereka yang bekerja untuk memenuhi kehidupan keluarga.
Dahulu tujuan para WNI (Warga Negara Indonesia) berangkat keluar negeri adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga yang menanti. Bukan kesenangan yang mereka rasakan, namun kerinduan yang mendalam karena perpisahan dengan orang yang disayang. Tidak ada sedikitpun niatan untuk menghambur-hamburkan uang, karena pikiran mereka berjalan, lebih baik tidak dandan daripada orang yang disayang kelaparan. Lain dulu lain sekarang, seiring berkembangnya zaman, manusiapun banyak mengalami perubahan. Dari yang dulunya ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini ke luar negeri hanya untuk mengejar gengsi, yang dulunya senang sekali bertemu teman dari negara sendiri, hingga kini berubah menjadi opsi saling hujat warga negara sendiri. Sungguh perbedaan yang amat sangat memprihatinkan.
Menurut BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan & Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) pada tahun 2014 terdapat 158.302 TKI yang tersebar di negara-negara maju. Pekerjaannya bermacam-macam, mulai dari yang jabatannya tinggi hingga asisten rumah tanggapun jadi. Menurut data yang ada pada tahun 2014, 60% dari para TKI di luar negeri adalah perempuan dan 40% laki-laki.
Baru-baru ini saya melihat tayangan di Youtube tentang para TKI yang saling hujat sesama TKI namun di lain negara, saling membanggakan negara tempat mereka bekerja. Judulnya, “Rumangsamu penak dadi TKI yo penak,,bayangno!...” (Menurutmu enak jadi TKI ya enak, bayangkan!...) dalam video yang bedurasi minimal 3 menit ini, opsi saling sindir masalah gaji, pekerjaan dan tempat tinggal dimulai. Setelah saya selidiki, perang video TKI ini dipicu oleh sebuah video unggahan para suami yang ditinggal istri bekerja keluar negeri. Mereka dengan bangganya  tanpa diliputi rasa bersalah dan berdosa memamerkan gaya hidupnya di kampung yang enak tanpa harus bekerja, tiap bulan hanya menadahkan tangan karena istri mereka akan mengirimkan uang kebutuhan tiap bulannya, dalam istilah lain “Hidup di ketiak istri” yang bekerja untuk mereka. Mengapa saya berkata demikian? Alasannya sederhana, karena kondisi tubuh mereka sehat wal’afiyat tanpa cacat maupun dalam keadaan sakit. Setelah saya cermati, ini bukan lagi hal lucu yang patut ditertawakan, namun lebih pasnya adalah di do’akan agar mereka tidak saling tikam lewat perkataan dan saling meremehkan. Pelajaran yang dapat kita ambil dari masalah ini adalah tentang cara menghargai dan bersosialisasi. Menghargai orang lain itu penting, bukan malahan menghujat satu sama lain. Jangan minta dihargai kalau diri sendiri belum dilatih untuk menghargai, terutama warga negara sendiri. Ingat, semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika.”
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, apa maksudnya? Yaitu kecenderungan manusia yang memiliki kebutuhan, kemampuan dan kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Amat mustahil apabila manusia harus hidup seorang diri, karena fitrah manusia adalah bersosialisasi. Kadang kita perlu seorang teman untuk mencurahkan isi hati kita seluruhnya, teman yang kita percaya agar dapat menjaga rahasia, yang senantiasa ada ketika kita butuh bahu untuk bersandar. “Sahabat bukan orang yang selalu menganggap benar setiap perkataan yang terlontar, namun sahabat adalah orang yang selalu mengingatkan dan meluruskan ketika kita berbuat kesalahan.” Sebuah kata mutiara yang mungkin sering kita baca tanpa kita pahami apa makna sebenarnya yang terkandung didalamnya.
Maka ketahuilah wahai saudara, warga negara Indonesia khususnya yang sedang berjuang menghidupi keluarga di kampung halamannya. Bahwa kita satu bangsa, satu negara, satu tanah air kita, tanah air Indonesia. Pantaskah orang yang berasal dari negara yang sama saling mengolok-olok dan saling menghina sesama, di sosial media pula. Sadarlah wahai saudara bahwa kita pernah dijajah berabad-abad lamanya, susah untuk merdeka, para pejuang rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk memerdekakan tanah air kita tercinta, jangan bangga terhadap sesuatu yang tidak perlu dan tidak sepantasnya dibanggakan. Saat ini memang negara kita bukan termasuk dalam rentetan negara maju di dunia, yang menjadi cita-cita setiap negara tidak hanya Indonesia, namun siapa lagi yang akan mewujudkan cita-cita mulia para pahlawan Indonesia kalau bukan kita para penerus mereka? Banggalah terhadap negara sendiri meskipun banyak problema yang melanda, namun itulah kendala yang pastinya dimiliki setiap negara di dunia.
Kita melihat Jepang saat ini terkenal dengan teknologi dan ketertiban negaranya, namun tahukah anda bahwa 25.000 lebih penduduk Jepang bunuh diri setiap tahunnya? Inilah bukti bahwa negara maju seperti Jepang misalnya, tidak dapat menjamin warga negaranya bahagia. Harakiri (bunuh diri) terus menghantui kemunduran populasi penduduk Jepang di masa depan. Lain Jepang lain pula Indonesia, Jepang boleh bangga dengan teknologi untuk saat ini, namun dibalik kemajuan teknologi terdapat kasus harakiri yang mendominasi. Kebanyakan orang bunuh diri di Jepang disebabkan keputus asaan serta tidak adanya keyakinan dan panutan untuk dijadikan sandaran ketika keterpurukan datang. Orang Jepang menganut Agama yang menurut mereka pas di hati dan enak dijalani. Sehingga ketika tidak ada lagi yang diharapkan dari hidup ini, mereka lebih baik mati.
Oleh sebab itu saudara-saudara, kita perlu bangga menyandang gelar negara dengan pemeluk Islam terbanyak di dunia. Kita punya Allah Ta’ala yang akan mewujudkan segala do’a apabila kita sungguh-sungguh dalam meminta. Namun jangan hanya menyandang gelar, norma yang ditetapkan Islampun wajib dijalankan. Ketika norma diterapkan, otomatis moral pun berjalan, karena moral dapat menuntun hati nurani seseorang agar menolak segala kecurangan dan menggantinya dengan kejujuran serta keadilan dalam urusan kenegaraan. Mari kita buktikan bahwa kita punya norma sebagai modal utama memajukan negara Indonesia. We Love Indonesia.  Allahu Akbar!



0 komentar:

Posting Komentar