TETAP GARUDA DIMANAPUN NEGARANYA
Saat perjalanan
kembali ke Pesantren, sebuah mobil bak terbuka dengan nomor polisi R 3074 DH menyalip
mobil keluarga saya seraya membunyikan klakson. Plat nomor Kabupaten Banjarnegara. Tiba-tiba Ayah yang duduk di jok
depan nyeletuk “mobile wong mbanjar kae, sapa ya? Wis kaya wonge dewek nek
ketemu nang gon seng adoh (mobil orang Banjar (Banjarnegara) itu, siapa ya?
Sudah seperti keluarga sendiri ketika bertemu (orang dari daerah yang sama) di
tempat jauh.” Pengalaman ini membuat saya pribadi berpikir, bahwa dimanapun
saya berada rasanya sangat berbeda dengan lingkungan tempat saya dibesarkan,
karena saya pribadi merasakan tinggal di kota yang jauh dari tempat tinggal
orang tua. Rasanya senang sekali ketika dapat berjumpa kawan seperjuangan di
daerah perantauan dari daerah asal saya, padahal kami tidak kenal sebelumnya. Alhamdulillah
hingga saat ini hubungan kami sudah seperti keluarga sendiri, dahulu ketika
saya sedang tidak betah-betahnya, dialah tempat pelabuhan rasa rindu saya
terhadap keluarga, dialah sahabat yang mengerti saya karena dia juga merasakan
hal yang serupa.
Sekarang kita
mulai pembahasan dengan rentetan pertanyaan yang akan saya lontarkan. Pernahkah
anda membayangkan hidup di lain negara dengan menyandang ‘gelar’ Tenaga Kerja
Indonesia atau Tenaga Kerja Wanita? Dengan warga dan lingkungan yang bedanya
360O dari Indonesia? Dan hidup sebatangkara jauh dari keluarga?
Mungkin yang terbayang bagi anda yang belum pernah merasakan adalah kenikmatan
hidup di negeri orang yang teknologinya mumpuni dan jauh lebih maju dari negara
sendiri. Namun apakah benar yang mereka rasakan seperti yang anda semua
bayangkan? Mungkin iya, apabila tujuan ke luar negerinya untuk vacation atau
liburan. Namun tidak, bagi mereka yang bekerja untuk memenuhi kehidupan
keluarga.
Dahulu tujuan
para WNI (Warga Negara Indonesia) berangkat keluar negeri adalah untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari keluarga yang menanti. Bukan kesenangan yang mereka
rasakan, namun kerinduan yang mendalam karena perpisahan dengan orang yang
disayang. Tidak ada sedikitpun niatan untuk menghambur-hamburkan uang, karena
pikiran mereka berjalan, lebih baik tidak dandan daripada orang yang disayang
kelaparan. Lain dulu lain sekarang, seiring berkembangnya zaman, manusiapun
banyak mengalami perubahan. Dari yang dulunya ke luar negeri untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, kini ke luar negeri hanya untuk mengejar gengsi, yang
dulunya senang sekali bertemu teman dari negara sendiri, hingga kini berubah
menjadi opsi saling hujat warga negara sendiri. Sungguh perbedaan yang amat
sangat memprihatinkan.
Menurut BNP2TKI
(Badan Nasional Penempatan & Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) pada
tahun 2014 terdapat 158.302 TKI yang tersebar di negara-negara maju.
Pekerjaannya bermacam-macam, mulai dari yang jabatannya tinggi hingga asisten
rumah tanggapun jadi. Menurut data yang ada pada tahun 2014, 60% dari para TKI
di luar negeri adalah perempuan dan 40% laki-laki.
Baru-baru ini
saya melihat tayangan di Youtube tentang para TKI yang saling hujat sesama TKI
namun di lain negara, saling membanggakan negara tempat mereka bekerja.
Judulnya, “Rumangsamu penak dadi TKI yo penak,,bayangno!...” (Menurutmu enak
jadi TKI ya enak, bayangkan!...) dalam video yang bedurasi minimal 3 menit
ini, opsi saling sindir masalah gaji, pekerjaan dan tempat tinggal dimulai.
Setelah saya selidiki, perang video TKI ini dipicu oleh sebuah video unggahan
para suami yang ditinggal istri bekerja keluar negeri. Mereka dengan bangganya tanpa diliputi rasa bersalah dan berdosa
memamerkan gaya hidupnya di kampung yang enak tanpa harus bekerja, tiap bulan
hanya menadahkan tangan karena istri mereka akan mengirimkan uang kebutuhan
tiap bulannya, dalam istilah lain “Hidup di ketiak istri” yang bekerja untuk
mereka. Mengapa saya berkata demikian? Alasannya sederhana, karena kondisi
tubuh mereka sehat wal’afiyat tanpa cacat maupun dalam keadaan sakit. Setelah
saya cermati, ini bukan lagi hal lucu yang patut ditertawakan, namun lebih
pasnya adalah di do’akan agar mereka tidak saling tikam lewat perkataan dan
saling meremehkan. Pelajaran yang dapat kita ambil dari masalah ini adalah
tentang cara menghargai dan bersosialisasi. Menghargai orang lain itu penting,
bukan malahan menghujat satu sama lain. Jangan minta dihargai kalau diri
sendiri belum dilatih untuk menghargai, terutama warga negara sendiri. Ingat,
semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika.”
Pada dasarnya
manusia adalah makhluk sosial, apa maksudnya? Yaitu kecenderungan manusia yang
memiliki kebutuhan, kemampuan dan kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi
dengan manusia lainnya. Amat mustahil apabila manusia harus hidup seorang diri,
karena fitrah manusia adalah bersosialisasi. Kadang kita perlu seorang teman
untuk mencurahkan isi hati kita seluruhnya, teman yang kita percaya agar dapat
menjaga rahasia, yang senantiasa ada ketika kita butuh bahu untuk bersandar. “Sahabat
bukan orang yang selalu menganggap benar setiap perkataan yang terlontar, namun
sahabat adalah orang yang selalu mengingatkan dan meluruskan ketika kita
berbuat kesalahan.” Sebuah kata mutiara yang mungkin sering kita baca tanpa kita
pahami apa makna sebenarnya yang terkandung didalamnya.
Maka ketahuilah
wahai saudara, warga negara Indonesia khususnya yang sedang berjuang menghidupi
keluarga di kampung halamannya. Bahwa kita satu bangsa, satu negara, satu tanah
air kita, tanah air Indonesia. Pantaskah orang yang berasal dari negara yang
sama saling mengolok-olok dan saling menghina sesama, di sosial media pula.
Sadarlah wahai saudara bahwa kita pernah dijajah berabad-abad lamanya, susah
untuk merdeka, para pejuang rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk memerdekakan
tanah air kita tercinta, jangan bangga terhadap sesuatu yang tidak perlu dan
tidak sepantasnya dibanggakan. Saat ini memang negara kita bukan termasuk dalam
rentetan negara maju di dunia, yang menjadi cita-cita setiap negara tidak hanya
Indonesia, namun siapa lagi yang akan mewujudkan cita-cita mulia para pahlawan
Indonesia kalau bukan kita para penerus mereka? Banggalah terhadap negara
sendiri meskipun banyak problema yang melanda, namun itulah kendala yang
pastinya dimiliki setiap negara di dunia.
Kita melihat
Jepang saat ini terkenal dengan teknologi dan ketertiban negaranya, namun
tahukah anda bahwa 25.000 lebih penduduk Jepang bunuh diri setiap tahunnya?
Inilah bukti bahwa negara maju seperti Jepang misalnya, tidak dapat menjamin
warga negaranya bahagia. Harakiri (bunuh diri) terus menghantui
kemunduran populasi penduduk Jepang di masa depan. Lain Jepang lain pula
Indonesia, Jepang boleh bangga dengan teknologi untuk saat ini, namun dibalik kemajuan
teknologi terdapat kasus harakiri yang mendominasi. Kebanyakan orang
bunuh diri di Jepang disebabkan keputus asaan serta tidak adanya keyakinan dan
panutan untuk dijadikan sandaran ketika keterpurukan datang. Orang Jepang
menganut Agama yang menurut mereka pas di hati dan enak dijalani. Sehingga ketika
tidak ada lagi yang diharapkan dari hidup ini, mereka lebih baik mati.
Oleh sebab itu
saudara-saudara, kita perlu bangga menyandang gelar negara dengan pemeluk Islam
terbanyak di dunia. Kita punya Allah Ta’ala yang akan mewujudkan segala
do’a apabila kita sungguh-sungguh dalam meminta. Namun jangan hanya menyandang
gelar, norma yang ditetapkan Islampun wajib dijalankan. Ketika norma
diterapkan, otomatis moral pun berjalan, karena moral dapat menuntun hati nurani
seseorang agar menolak segala kecurangan dan menggantinya dengan kejujuran
serta keadilan dalam urusan kenegaraan. Mari kita buktikan bahwa kita punya
norma sebagai modal utama memajukan negara Indonesia. We Love Indonesia.
Allahu Akbar!
0 komentar:
Posting Komentar