Kamis, 22 Oktober 2015

Putaran Roda Kehidupan

PUTARAN RODA KEHIDUPAN

            Disaat kebanyakan orang dengan lancarnya berjalan, apalah daya aku hanya dapat bertopang pada sebuah tongkat untuk perlahan meniti jalanan. Seperti biasa, jalanan sudah mulai ramai dengan orang-orang yang disibukkan oleh aktivitas harian. Memang berat menjadi orang yang mempunyai kekurangan, namun di balik kekurangan itu Sang Khaliq pasti memberikan kelebihan.
            Bila waktu dapat diputar kembali, aku lebih memilih untuk tidak mendewakan materi. Tetapi kini penyesalan sudah tiada arti, hanya perbaikan kepribadian yang harus aku jalankan serta lebih mendekatkan diri kepada Illahi Rabbi, karena kepada-Nya lah segala urusan duniawi akan kembali.
***
            Hari ini tepat lima tahun peristiwa itu terjadi, peristiwa yang menyadarkanku akan kebesaran Allah Ta’ala dan tidak seorangpun dapat menduga karena terjadi secara tiba-tiba.
Pagi itu aktivitas di pabrik kayu lapis berjalan seperti biasa. Namun siapa sangka gergaji tajam pada mesin pemotong kayu yang berputar dengan kecepatan maksimal, terlepas dan terbang kearah Direktur Utama perusahaan saat terjun langsung ke lapangan. Spontan aku berteriak kesakitan melihat gergaji besar menancap tepat di bagian lutut. Suara mesin dan kepanikan seluruh karyawan membuat suasana pabrik semakin gaduh. Seketika pandanganku menjadi gelap.
***
            Setelah dua hari tak sadarkan diri, aku siuman dan merasakan nyeri yang sangat di bagian kaki. Aku tidak percaya, kakiku, “Ya Allah,,,” dadaku sesak menahan tangis, terlebih  mendengar berita bahwa api telah membumi hanguskan pabrik diduga karena kesalahan aliran listrik, 23 karyawan tak dapat diselamatkan.
Bagaikan batu karang yang dihempas ombak besar lautan, kokoh, namun tenggelam perlahan. Tatapan mataku kosong, “kemana lagi aku akan pergi setelah semua ini terjadi?” gumamku dalam hati. Setelah lama introspeksi diri, akhirnya aku menyadari bahwa selama ini telah melupakan hal yang seharusnya aku prioritaskan. Diriku telah lalai akan Rabbku, diriku telah sombong kepada-Nya karena hanya berusaha tanpa diiringi dengan do’a.
            Aku tidak menyangka bahwa harta benda yang kupunya dapat hilang dalam sekejap mata. Bertahun-tahun aku mengumpulkannya dan kini hanya sepasang pakaian yang tersisa. Semegah apapun istana yang dibangun di dunia tetaplah akan sirna, karena istana yang abadi hanya akan dibangun di surga.
***
            Namaku Hamzah, lelaki yang hidup seorang diri tanpa satupun kerabat yang menemani. Orang tuaku meninggal dunia ketika umurku 2 tahunan dalam sebuah kecelakaan. Sejak saat itu aku hidup di panti asuhan. Aku beruntung dapat mengenyam pendidikan di sebuah lembaga pesantren dengan beasiswa. Kecerdasan dan ketegasan lisanku dalam bertutur kata membuat utusan dari pesantren kala itu terpesona. Itulah singkat cerita bagimana aku mendapat beasiswa.
            Aku dikenal sebagai orang yang memiliki optimisme tinggi dan tak gentar menghadapi suatu permasalahan. Aku tidak menganggap suatu kegagalan dalam sebuah percobaan adalah kekalahan, namun aku menganggap kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan. Benar saja, pabrik kayu milik pesantren berkembang pesat setelah Pak Kyai mengamanahkanku untuk mengelolanya.
Belajar dari pengalaman mengelola pabrik kayu pesantren, aku berinisiatif untuk mendirikan pabrik mandiri dari hasil tabunganku selama ini. Alhamdulillah dengan cepat pabrik kayu yang kurintis menghasilkan banyak materi. Terlalu sibuk dengan urusan keduniaan, akhirat mulai aku nomor duakan dan pada akhirnya perihal ibadah hampir aku tinggalkan.
***
            Terik matahari menyengat ubun-ubun, kuseka peluh yang membanjiri dahi. Bus yang kutunggu datang, para penumpang berdesak-desakan untuk mendapat giliran naik. Dengan susah payah kupegang besi di samping pintu untuk   dapat naik ke dalam bus jurusan antar kota itu. Dengan suara lantang namun nada bicara sopan, kujajakan mushaf Al-Qur’an kepada seluruh penumpang. Aku beruntung dapat kembali ke jalan kebenaran walaupun harus memulai segalanya dari awal. Inilah roda kehidupan, terus berputar, kedudukan manusia tak tetap, kadang berada di atas dan kadang berada di bawah.
            Aku beruntung hanya kehilangan harta benda dunia yang sifatnya fana, setidaknya iman dalam dada masih tersisa, pertanda bahwa Allah masih memberikanku kesempatan untuk membenahi diri sebelum termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Na’udzubillahi min dzalik.
***
Sedih rasanya bila melihat para penyandang cacat harus berakhir dengan menadahkan tangan bukan untuk berdo’a, namun demi meminta belas kasihan manusia. Apalah yang dapat diharapkan dari sesama manusia, mereka sama-sama tidak dapat memberikan apa-apa. Satu-satunya tempat meminta hanyalah kepada Allah SWT, karena Ialah Yang Maha Segalanya. Yakinlah bahwa Allah selalu ada untuk kita, jangan sungkan untuk meminta dan memperbanyak amal ibadah tentunya.
Seperti biasa, kutiti jalanan perlahan seiring dengan terbitnya matahari menyongsong pagi. Aku harus sadar diri bahwa kini fisikku sudah tidak sempurna lagi. Tekadku sudah bulat untuk membangun lebih kokoh pondasi dalam jiwa ini, karena aku tidak ingin terpuruk dan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sakit memang apabila sebuah harapan harus pupus di tengah jalan dan belum dapat diteruskan, namun aku sadar bahwa dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Labuhkan cinta hanya kepada-Nya, niscaya kita akan hidup bahagia di dunia serta akhirat-Nya. In syaa Allah.



0 komentar:

Posting Komentar