PUTARAN
RODA KEHIDUPAN
Disaat kebanyakan orang dengan lancarnya berjalan,
apalah daya aku hanya dapat bertopang pada sebuah tongkat untuk perlahan meniti
jalanan. Seperti biasa, jalanan sudah mulai ramai dengan orang-orang yang
disibukkan oleh aktivitas harian. Memang berat menjadi orang yang mempunyai
kekurangan, namun di balik kekurangan itu Sang Khaliq pasti memberikan
kelebihan.
Bila waktu dapat diputar kembali,
aku lebih memilih untuk tidak mendewakan materi. Tetapi kini penyesalan sudah
tiada arti, hanya perbaikan kepribadian yang harus aku jalankan serta lebih
mendekatkan diri kepada Illahi Rabbi, karena kepada-Nya lah segala
urusan duniawi akan kembali.
***
Hari ini tepat lima tahun peristiwa
itu terjadi, peristiwa yang menyadarkanku akan kebesaran Allah Ta’ala
dan tidak seorangpun dapat menduga karena terjadi secara tiba-tiba.
Pagi itu aktivitas di pabrik kayu lapis berjalan
seperti biasa. Namun siapa sangka gergaji tajam pada mesin pemotong kayu yang
berputar dengan kecepatan maksimal, terlepas dan terbang kearah Direktur Utama
perusahaan saat terjun langsung ke lapangan. Spontan aku berteriak kesakitan
melihat gergaji besar menancap tepat di bagian lutut. Suara mesin dan kepanikan
seluruh karyawan membuat suasana pabrik semakin gaduh. Seketika pandanganku
menjadi gelap.
***
Setelah dua hari tak sadarkan diri,
aku siuman dan merasakan nyeri yang sangat di bagian kaki. Aku tidak percaya,
kakiku, “Ya Allah,,,” dadaku sesak menahan tangis, terlebih mendengar berita bahwa api telah membumi
hanguskan pabrik diduga karena kesalahan aliran listrik, 23 karyawan tak dapat
diselamatkan.
Bagaikan batu karang yang dihempas ombak besar
lautan, kokoh, namun tenggelam perlahan. Tatapan mataku kosong, “kemana lagi
aku akan pergi setelah semua ini terjadi?” gumamku dalam hati. Setelah lama
introspeksi diri, akhirnya aku menyadari bahwa selama ini telah melupakan hal
yang seharusnya aku prioritaskan. Diriku telah lalai akan Rabbku, diriku
telah sombong kepada-Nya karena hanya berusaha tanpa diiringi dengan do’a.
Aku tidak menyangka bahwa harta
benda yang kupunya dapat hilang dalam sekejap mata. Bertahun-tahun aku mengumpulkannya
dan kini hanya sepasang pakaian yang tersisa. Semegah apapun istana yang
dibangun di dunia tetaplah akan sirna, karena istana yang abadi hanya akan
dibangun di surga.
***
Namaku Hamzah, lelaki yang hidup
seorang diri tanpa satupun kerabat yang menemani. Orang tuaku meninggal dunia
ketika umurku 2 tahunan dalam sebuah kecelakaan. Sejak saat itu aku hidup di
panti asuhan. Aku beruntung dapat mengenyam pendidikan di sebuah lembaga
pesantren dengan beasiswa. Kecerdasan dan ketegasan lisanku dalam bertutur kata
membuat utusan dari pesantren kala itu terpesona. Itulah singkat cerita
bagimana aku mendapat beasiswa.
Aku dikenal sebagai orang yang memiliki
optimisme tinggi dan tak gentar menghadapi suatu permasalahan. Aku tidak
menganggap suatu kegagalan dalam sebuah percobaan adalah kekalahan, namun aku
menganggap kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan. Benar saja,
pabrik kayu milik pesantren berkembang pesat setelah Pak Kyai mengamanahkanku
untuk mengelolanya.
Belajar dari pengalaman mengelola pabrik kayu
pesantren, aku berinisiatif untuk mendirikan pabrik mandiri dari hasil
tabunganku selama ini. Alhamdulillah dengan cepat pabrik kayu yang
kurintis menghasilkan banyak materi. Terlalu sibuk dengan urusan keduniaan, akhirat
mulai aku nomor duakan dan pada akhirnya perihal ibadah hampir aku tinggalkan.
***
Terik matahari menyengat ubun-ubun,
kuseka peluh yang membanjiri dahi. Bus yang kutunggu datang, para penumpang
berdesak-desakan untuk mendapat giliran naik. Dengan susah payah kupegang besi
di samping pintu untuk dapat naik ke
dalam bus jurusan antar kota itu. Dengan suara lantang namun nada bicara sopan,
kujajakan mushaf Al-Qur’an kepada seluruh penumpang. Aku beruntung dapat
kembali ke jalan kebenaran walaupun harus memulai segalanya dari awal. Inilah
roda kehidupan, terus berputar, kedudukan manusia tak tetap, kadang berada di
atas dan kadang berada di bawah.
Aku beruntung hanya kehilangan harta
benda dunia yang sifatnya fana, setidaknya iman dalam dada masih tersisa,
pertanda bahwa Allah masih memberikanku kesempatan untuk membenahi diri sebelum
termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Na’udzubillahi min
dzalik.
***
Sedih rasanya bila melihat para penyandang cacat
harus berakhir dengan menadahkan tangan bukan untuk berdo’a, namun demi meminta
belas kasihan manusia. Apalah yang dapat diharapkan dari sesama manusia, mereka
sama-sama tidak dapat memberikan apa-apa. Satu-satunya tempat meminta hanyalah
kepada Allah SWT, karena Ialah Yang Maha Segalanya. Yakinlah bahwa Allah selalu
ada untuk kita, jangan sungkan untuk meminta dan memperbanyak amal ibadah
tentunya.
Seperti biasa, kutiti jalanan perlahan seiring
dengan terbitnya matahari menyongsong pagi. Aku harus sadar diri bahwa kini
fisikku sudah tidak sempurna lagi. Tekadku sudah bulat untuk membangun lebih
kokoh pondasi dalam jiwa ini, karena aku tidak ingin terpuruk dan jatuh ke
dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sakit memang apabila sebuah harapan
harus pupus di tengah jalan dan belum dapat diteruskan, namun aku sadar bahwa
dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Labuhkan cinta hanya kepada-Nya,
niscaya kita akan hidup bahagia di dunia serta akhirat-Nya. In syaa Allah.
0 komentar:
Posting Komentar