KUPELUK ENGKAU DALAM SUJUDKU
Jarum
jam menunjukan angka dua, kuseka mataku sebelum mengambil air wudhu untuk
menunaikan ibadah sholat tahajjud. Kulihat wajah mungil di sampingku sedang
terlelap, kubentangkan selimut yang sudah berada di kakinya kembali menutup
tubuhnya. Roka’at demi roka’at aku jalankan meskipun mataku terasa berat akibat
begadang mengerjakan Tesis Pasca Sarjanaku. Rutinitas ibadah yang berat ini
selalu ku jalani dengan penuh tawakkal setiap malamnya. Hawa dingin menusuk
hingga pori-pori, namun berkat imam rumah tanggaku yang selalu membimbing dan
menuntunku ke jalan lurus-Nya, rasa ini sudah menjadi teman dalam ibadah malam tanpa ada keluhan yang
kulontarkan.
Kenangan
indah itu tak akan pernah luput dari ingatan, kenangan yang tersirat dua tahun
silam. Mataku berkaca-kaca setiap kali melihat bingkai foto yang terpajang di
meja belajar.
***
Ketika
seseorang terlahir ke dunia, maka telah ditetapkan baginya jodoh, rejeki dan
maut yang tersurat di lauhil mahfudh. Maha Suci Allah yang telah
menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna dibanding
makhluk-makhluk lainnya. Sangat disayangkan apabila rasa syukur masih belum
dapat terucapkan di lisan dan tertanam dilubuk
hati yang paling dalam.
Sebuah
kata bijak tersirat dalam relung kalbu, “Menjadi wanita itu kehendak Allah,
menjadi cantik itu relatif, menjadi muslimah itu anugrah, tetapi menjadi
muslimah yang sholehah itu pilihan.” Mulai sekarang telah kuputuskan untuk tak
hanya sekedar menjadi muslimah, namun juga muslimah yang sholehah. Karena,
semakin kuat niatan seseorang untuk kebaikan, maka semakin besar pula ganjaran
yang akan ia dapatkan. Hal ini apabila digambarkan dalam struktur pemerintahan,
bak tanggung jawab seorang atasan yang jauh lebih besar dari bawahan, akan tetapi upah
yang ia dapatkan juga sepadan dengan apa yang ia kerjakan. Konsistensi dalam pengendalian
hati dan pikiran pada niatan tinggi penerapan hukum Islam memang tidak mudah,
namun apabila niat dan tekat sudah bulat, seakan topan badai tak dapat merobohkan
kekokohan hati yang telah mantap.
Memasuki
semester 3 Fakultas Tarbiyah di sebuah Perguruan Tinggi, kuputuskan untuk
membuang semua celana jeans yang selama ini kukenakan dalam keseharian.
Kuganti semua pakaian dan jilbab tipis dengan pakaian muslimah yang telah
disyari’atkan, yaitu pakaian longgar dan jilbab panjang. Kuluangkan waktu yang
amat padat untuk dapat mengikuti kajian harian pendalaman Agama Islamku yang
masih dangkal.
***
Kulihat
jam tanganku menunjukkan pukul delapan tepat ketika sampai di depan kampus.
Segera kuberlari ke arah tangga menuju kelas yang terletak di lantai empat
karena jam kuliah akan segera dimulai. Pada lantai pertama, kutengokkan
kepalaku kearah lift yang terletak beberapa
langkah dari tangga yang akan kunaiki selanjutnya, namun rasa kesal akan
antrian membuatku tak dapat lagi menunggu. Beruntung kali ini aku tidak
terlambat, tapi ini sudah jam delapan lewat dan dosen kami belum juga terlihat.
Fyuh...kuatur
nafas yang sudah tak beraturan, kuseka keringat yang mengucur di dahi dengan sapu
tangan. Tiba-tiba kelas yang semula ramai menjadi hening bak keheningan malam.
Kutengadahkan kepalaku yang semula menunduk, seorang laki-laki berjas hitam dengan kemeja biru dan dasi
serasi berdiri di depan kami dengan wajah teduh disertai senyuman manis yang
menghiasi. Ternyata beliau adalah dosen pengganti, karena Pak Rizal sudah sepuh
beliau memutuskan untuk pensiun dan mengutus putranya untuk melanjutkan amanah
yang belum sempat terselesaikan.
Dalam
setiap kajian, akan ada kata-kata singkat penuh makna yang selalu terngiang. Salah
satunya adalah “Zina yang paling sulit dihindari dan hanya sedikit manusia
yang selamat dari padanya adalah zina MATA”. Segera kutundukan kembali
kepalaku dan beristighfar dalam hati. Selama ini, mataku lebih sering menatap
tanah dan alas kaki orang-orang ketika berjalan, hingga pernah tidak bertegur
sapa dengan orang yang kukenal, namun hal ini tidak masalah apabila zina itu
dapat dihindarkan.
***
Pagi
ini aku bangun lebih awal dari biasanya, kukeluarkan semua isi tasku untuk
mencari flashdisk yang berisi rancangan skripsi. Setelah semua berantakan, baru
kusadari belum mencabutnya dari laptop akibat begadang dan akhirnya ketiduran kemarin
malam. Segera kupersiapkan bahan yang akan kukonsultasikan dengan dosen
pembimbing skripsiku.
Kulangkahkan
kaki menuju rumah dengan gaya arsitektur elit dengan tiang penopang atap teras
yang terbuat dari kayu jati. Gemercik air mancur menyambut kedatanganku setelah
memasuki pintu utama rumah Pak Rizal, dosen pembimbing skripsiku. Setelah
beberapa saat membunyikan bel, seorang pemuda yang tak asing lagi dimataku
keluar dengan mengenakan kemeja putih membukakan pintu. Ternyata Pak Rizal tidak
dapat membimbing skripsi kami, namun beliau meminta putranya, Mas Farid untuk
menggantikan beliau dalam hal ini juga.
Ya! Muhammad
Farid Anwar, itulah awal aku bertemu dengan suamiku yang tidak lain adalah
dosenku. Skenario pertemuan yang tidak dapat dibayangkan, sungguh diluar dugaan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang
keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan
laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang
dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”.(QS An-nur:26)
Sebagai seorang remaja, aku berbeda dari kebanyakan remaja lainnya.
Aku sangat menentang hubungan pacaran yang sudah menjadi kebiasaan dalam
menghabiskan masa lajang. Aku percaya ketika Allah telah menetapkan jodoh, maka
skenario pertemuan juga akan dirancang. Mau bagaimanapun caranya, jodoh pasti
akan datang, tidak perlu melalui jalan pacaran yang akan menjerumuskan lebih
dalam ke jurang kemaksiatan.
***
Liburan
semester ini orang tua memintaku untuk langsung pulang ke rumah. Biasanya aku
diizinkan untuk beberapa hari menikmati awal liburan panjang dengan teman-teman.
Mereka sangat percaya bahwa aku tidak akan salah pergaulan, untuk itu aku harus
bisa memegang kepercayaan yang telah mereka berikan. Aku patuhi permintaan
mereka untuk segera kembali ke rumah setelah UAS usai.
Pertemuan
keluarga akan digelar malam ini. Aku sempat merajuk karena ibu tidak
memberitahu sebelumnya dan meminta persetujuanku. Namun apa daya, kuturuti saja
permintaan mereka, aku yakin sepenuhnya dengan pilihan orang tua, Insyaallah yang
terbaik. Gamis biru dengan motif kotak-kotak nan anggun kukenakan malam ini,
kumantapkan hati dengan menatap wajah sendiri di depan cermin. Beberapa saat
kemudian, terdengar suara Ibu memanggilku dari balik pintu.
Aku mengambil
tempat duduk ditengah-tengah Ayah dan Ibu tanpa menatap satu persatu wajah para
tamu. Jantungku berdebar tak menentu, entah rasa senang atau gelisah yang
beradu. Ayah memulai percakapan dengan para tamu dengan sebuah pertanyaan yang
membuatku semakin menundukkan wajahku, “Apakah anak kami ini yang Mas Farid
maksud?” tanya Ayahku kepada lelaki yang berniat menyempurnakan setengah diennya
denganku. Hatiku semakin tak menentu setelah mendengar namanya, kulirik sejenak
laki-laki yang duduk diseberangku, “Farid itu kan, dosenku...” gumamku
dalam hati. “Benar Pak” jawabnya mantap sembari menggenggam kedua
telapak tangannya di atas paha tanda gelisah. Tanganku mulai berkeringat dingin
ketika Ayah mengajukan pertanyaan untukku, “Bagaimana Firda? Apa kamu bersedia
menerima lamaran Mas Farid?”
Aku hanya bisa
terbungkam, dalam suasana terjepit ini, aku ingat nasehat Pak Kyai dalam pengajian tempo hari, “Apabila telah
datang kepadamu seorang laki-laki sholeh, maka tidak baik bagimu untuk
menolaknya, karena hal pertama yang harus dilihat oleh seorang wanita muslimah
dalam menentukan pasangan hidupnya adalah dari akhlak seorang laki-laki, bukan
ketampanan ataupun kekayaan yang ia miliki.” Mengingat perkataan itu aku
sedikit melirik raut wajahnya yang teduh penuh keimanan, dan hatiku semakin
mantap untuk menerima pinangannya. Keimanan tersirat jelas diwajahnya. Kuanggukkan
sedikit kepalaku untuk menyetujui niatannya. “Alhamdulillah” ucap semua
orang yang menghadiri pertemuan keluarga kami saat itu.
Tanggal
pernikahan kami ditetapkan dua bulan mendatang, rasanya memang canggung harus
menikah dengan orang yang belum lama dikenal, namun aku percaya bahwa Allah
telah mengatur dan menetapkan sedemikian
rupa hukum-hukum Islam untuk kebaikan hamba-Nya
yang menerapkan dalam kehidupan. Karena hidup di dunia tanpa keridhoan Allah
SWT, bagaikan bejana kosong yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa arah
dan tujuan.
***
Lantunan
Ayat Al-Qur’an terdengar syahdu terucap dari mulutnya dalam suasana ijab kabul
yang diselenggarakan tanggal 15 Agustus 2012. Bagiku, mahar paling mahal yang
telah Mas Farid berikan adalah hafalan Q.S Ar-rahman. Suaranya yang merdu
menyejukkan kalbu.
Bak
raja dan ratu, kami duduk di pelaminan dalam acara resepsi yang diselenggarakan
di gedung pertemuan hotel Cakra Mandala. Suasana haru dan bahagia meliputi
keluarga kami, khususnya keluargaku yang harus melepaskan anak perempuan mereka
mengikuti suaminya. Ayah memelukku erat seakan enggan untuk melepasku. Namun
begitulah hukum kehidupan yang beredar, dimana suatu saat seorang Ayah harus
rela menjadi sosok lelaki kedua yang melindungi putri tercinta setelah suaminya.
***
Hawa
dingin menusuk hingga ke pori-pori. Sepekan sudah hujan deras membasahi bumi
dari sore hingga malam usai.
Jam dinding
menunjukkan angka 12, kulihat suamiku masih terdiam dengan headset menutupi
telinganya. Tangannya terus menekan tombol
tasbih dengan mata tertutup dan bibir yang tak henti-hentinya berucap. Perlahan
aku berjalan mendekatinya yang duduk di shofa ruang keluarga. Seminggu terakhir
ini ia jarang memejamkan mata, ia memilih berdzikir setelah menyelesaikan
pekerjaannya hingga sepertiga malam tiba, kemudian berlanjut untuk menunaikan
sholat malam bersama. Ia hanya sejenak memejamkan matanya untuk menunggu waktu
subuh tiba, itupun karena kupaksa. Aku khawatir ia akan jatuh sakit karena
kurang istirahat, ku tegur dengan nada suara pelan agar ia mau istirahat, namun
tetap saja ia selalu berkata “aku baik-baik saja, ada Allah yang selalu
melindungi setiap hamba-Nya yang bertakwa”. Nada suara lembutnya, senyuman
manis yang selalu mengiringi perkataannya, takan pernah kulupa untuk selamanya.
***
Dua
bulan hidup bersamanya aku merasa sangat bahagia. Hingga sempat tak terpikir olehku, hidup di dunia hanyalah sementara dan
kebahagiaan di dalamnya bersifat fana.
Jalan
basah akibat hujan deras semalaman mengiringi perjalanan kami menuju kampus.
Dalam perjalanan, ia memintaku menyalakan lantunan Ayat Al-Qur’an di tape
mobil. Kupandang wajahnya yang teduh penuh dengan keimanan, sunggingan senyuman
terpancar dari wajahnya yang menawan membalas pandangan, mata kami saling
bertemu sesaat dan kembali fokus seperti semula dengan stir mobilnya seraya
berkata, “Kebahagiaan sejati adalah ketika kita dekat dengan Allah SWT”, kata
singkat penuh makna yang tak akan pernah kulupa. Hingga pada akhirnya mobil
pengangkut barang melaju kencang dari arah yang berlawanan tepat ke arah kami.
Spontan suamiku membanting stir menghindari tabrakan, mobil kami menabrak
trotoar dengan keras dan pohon di pinggir jalan. Dengan kepala yang masih
pening akibat kecelakaan, kucoba untuk membuka pintu mobil. Kuarahkan
pandanganku ke arah suamiku, aku sangat syok melihat darah yang mengalir dari
kepalanya yang terbentur stir mobil terlebih lagi pohon yang ditabrak tepat
berada di depan kaca mobilnya. Orang-orang berdatangan mengerumuni kami, suara
ambulan terdengar beberapa saat setelah kecelakaan.
***
Kulihat
tubuhnya yang terbujur di atas bed ambulan. Melihat darah yang terus
mengalir dari pelipis dan nafasnya yang sudah tak beraturan, kutahan butiran
bening keluar dari ujung mata. Dadaku sesak menahan tangis, kufokuskan sisa
kekuatan untuk menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat di telinganya. Kudengar
jelas bibirnya mengucap dua kalimat syahadat dengan suara lirih dan lancar.
Keringat
membasahi keningnya yang berdarah, wajahnya tenang dengan mulut yang tak
henti-hentinya mengucap kalimat “Allah”. Aku merasa ini sudah waktunya,
aku tidak ingin hanya bersama dengannya di dunia, tapi aku ingin selalu bersama
dirinya sampai di kehidupan selanjutnya. Jangankan manusia biasa, Nabi
Muhammad, manusia yang paling sempurna tetap merasakan betapa sakitnya saat
malaikat maut datang mencabut nyawa dari raga manusia. Kugenggam tangannya yang
sudah dingin, saat mulutnya berhenti mengucap kalimat “Allah”, bibirnya
menyiratkan senyuman tipis, matanya yang semula terbelalak menahan rasa sakit
menutup perlahan, Inna lillhahi wa inna ilaihi roji’un, beliau telah berpulang
untuk menghadap Sang Pencipta alam
semesta dan seisinya. Dadaku semakin sesak menahan tangis, aku yakin Allah
lebih menyayanginya daripada aku harus melihatnya menderita menahan sakitnya.
Aku harus kuat karena ini cobaan yang diberikan Allah SWT untuk menguji
seberapa besar keimanan dan kesabaran yang aku miliki, aku pasti dapat
melaluinya karena “Allah tidak memberikan cobaan kepada hamba-Nya diluar
batas kemampuannya”. Namun apa daya aku hanya seorang manusia yang jauh
dari kata sempurna, tubuhku semakin lemah dan seketika pandanganku
berubah menjadi gelap.
***
Aku
berharap mimpi buruk ini akan segera berakhir. Kubuka mataku perlahan, kulihat
di sekelilingku peralatan medis tertata rapi dan jarum infus menancap di tangan
kananku. Kupegang sisi bangsal untuk menyeimbangkan posisi dudukku, kepalaku
pening. Kini aku sadar bahwa semua ini bukanlah mimpi, segera kucabut jarum
infus dan berlari mencari suamiku.
Kupercepat
langkahku menuju meja resepsionis, suster mengatakan bahwa korban kecelakaan
mobil yang masuk satu jam lalu telah di bawa ke ruang jenazah. Kulangkahkan kakiku
menuju ruang jenazah, pikiranku tak karuan seakan tak percaya kenyataan ini
telah terjadi padaku. Suster merangkulku dan membawaku pada salah satu jenazah
yang tertutup kain putih di samping pintu masuk ruangan. Dadaku tak kuasa
menahan tangis, nafasku tersendak-sendak. Segera kuberlari menuju masjid
terdekat untuk menenangkan diri, aku tak sanggup walau sekedar menitikan air
mata di depan jenazahnya.
***
Kakiku
mati rasa, mulutku bungkam, namun hatiku tiada henti-hentinya berdzikir dan
berdo’a. Aku harus kuat, karena Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai
batas keimanannya. Sabar adalah kunci utama untuk melalui cobaan yang Allah
berikan. Sekarang hatiku mulai tenang, walaupun orang yang aku kasihi telah
pergi dan tiada pernah kembali. Tapi aku yakin bahwa Allah akan mempertemukan
kami kembali di surga-Nya nanti. Amin.
Seorang
ibu paruh baya menghampiriku yang sedang melepas mukena, disodorkannya satu
botol air mineral kepadaku. Ternyata beliau telah memperhatikanku semenjak
kedatanganku ke masjid dengan linangan air mata, menangis hingga tak bersuara.
“Minum dek, tenangkan hatimu.” Sembari menepuk-nepuk pundakku pelan agar
aku tidak larut dalam kesedihan yang mendalam.
***
Kubuka
kain putih yang menutupi tubuhnya. Kulihat cahaya keimanan menyelimuti wajah
pucat dengan sedikit senyuman di bibirnya yang sudah biru. Mataku bengkak, air
mataku tak lagi menetes, aku tidak ingin menangis di depan jenazahnya. Aku
ikhlas atas segala kehendak Allah. Aku hanya mampu berbisik di telinganya, “Terima
kasih Mas, telah membimbing dan menuntunku ke jalan yang diridhoi Allah”.
Kini aku lega beliau berpulang ke rahmatullah dengan husnul khotimah..Insyaallah.
Memang
berat harus menerima kenyataan ditinggal wafat suami disaat pembangunan pondasi awal rumah tangga kami. Tetapi Allah
pasti akan memberikan hikmah atas cobaan yang Ia berikan untuk menguji keimanan
seorang hamba kepada-Nya. Kini kewajibanku adalah mendo’akannya agar ia bahagia
menungguku di sisi-Nya.
***
Semilir
angin menyibakkan kerudung panjangku. Dedaunan menari-nari menyambut kedatangan
kami pagi ini. Fakhri meminta turun dari gendonganku, ia duduk di pinggir makam
yang bertuliskan “Muhammad Farid Anwar bin H. Rizal Haryanto”. Kupandangi sekeliling
makamnya, tidak ada yang berubah, masih sama seperti dua tahun lalu ketika
tubuhku ambruk setelah jasadnya dimasukkan ke liang lahat.
Setiap hari
selalu kuceritakan kepada anakku perihal Ayahnya. Kuusahakan agar ia banyak
mengenal Ayahnya walaupun sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Mas Farid
adalah orang yang sangat cinta kepada Allah, maka sudah menjadi kewajibanku untuk menanamkan kepada buah hati kami rasa cinta
kepada Tuhannya melebihi dunia dan seisinya.
Pertanyaan
polosnya menegunkan lamunanku, “Ibu, Ayah sekarang ada di tempat yang jauh
ya? Tapi tempat ini kan dekat dengan rumah Fakhri..” Aku tersenyum kecil
dan memeluknya erat. Aku sangat bahagia memilikinya, Maha Suci Allah yang telah
memberiku nikmat yang tiada tara setelah cobaan berat yang aku terima.
- THE END -
0 komentar:
Posting Komentar