Kamis, 22 Oktober 2015

KUPELUK ENGKAU DALAM SUJUDKU

            Jarum jam menunjukan angka dua, kuseka mataku sebelum mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah sholat tahajjud. Kulihat wajah mungil di sampingku sedang terlelap, kubentangkan selimut yang sudah berada di kakinya kembali menutup tubuhnya. Roka’at demi roka’at aku jalankan meskipun mataku terasa berat akibat begadang mengerjakan Tesis Pasca Sarjanaku. Rutinitas ibadah yang berat ini selalu ku jalani dengan penuh tawakkal setiap malamnya. Hawa dingin menusuk hingga pori-pori, namun berkat imam rumah tanggaku yang selalu membimbing dan menuntunku ke jalan lurus-Nya, rasa ini sudah menjadi teman dalam  ibadah malam tanpa ada keluhan yang kulontarkan.
            Kenangan indah itu tak akan pernah luput dari ingatan, kenangan yang tersirat dua tahun silam. Mataku berkaca-kaca setiap kali melihat bingkai foto yang terpajang di meja belajar. 
***
Ketika seseorang terlahir ke dunia, maka telah ditetapkan baginya jodoh, rejeki dan maut yang tersurat di lauhil mahfudh. Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna dibanding makhluk-makhluk lainnya. Sangat disayangkan apabila rasa syukur masih belum dapat terucapkan di lisan dan tertanam dilubuk  hati yang paling dalam.
            Sebuah kata bijak tersirat dalam relung kalbu, “Menjadi wanita itu kehendak Allah, menjadi cantik itu relatif, menjadi muslimah itu anugrah, tetapi menjadi muslimah yang sholehah itu pilihan.” Mulai sekarang telah kuputuskan untuk tak hanya sekedar menjadi muslimah, namun juga muslimah yang sholehah. Karena, semakin kuat niatan seseorang untuk kebaikan, maka semakin besar pula ganjaran yang akan ia dapatkan. Hal ini apabila digambarkan dalam struktur pemerintahan, bak tanggung jawab seorang atasan yang jauh  lebih besar dari bawahan, akan tetapi upah yang ia dapatkan juga sepadan dengan apa yang ia kerjakan. Konsistensi dalam pengendalian hati dan pikiran pada niatan tinggi penerapan hukum Islam memang tidak mudah, namun apabila niat dan tekat sudah bulat, seakan topan badai tak dapat merobohkan kekokohan hati yang telah mantap.
            Memasuki semester 3 Fakultas Tarbiyah di sebuah Perguruan Tinggi, kuputuskan untuk membuang semua celana jeans yang selama ini kukenakan dalam keseharian. Kuganti semua pakaian dan jilbab tipis dengan pakaian muslimah yang telah disyari’atkan, yaitu pakaian longgar dan jilbab panjang. Kuluangkan waktu yang amat padat untuk dapat mengikuti kajian harian pendalaman Agama Islamku yang masih dangkal.
***
            Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul delapan tepat ketika sampai di depan kampus. Segera kuberlari ke arah tangga menuju kelas yang terletak di lantai empat karena jam kuliah akan segera dimulai. Pada lantai pertama, kutengokkan kepalaku kearah  lift yang terletak beberapa langkah dari tangga yang akan kunaiki selanjutnya, namun rasa kesal akan antrian membuatku tak dapat lagi menunggu. Beruntung kali ini aku tidak terlambat, tapi ini sudah jam delapan lewat dan dosen kami belum juga terlihat.
Fyuh...kuatur nafas yang sudah tak beraturan, kuseka keringat yang mengucur di dahi dengan sapu tangan. Tiba-tiba kelas yang semula ramai menjadi hening bak keheningan malam. Kutengadahkan kepalaku yang semula menunduk, seorang laki-laki  berjas hitam dengan kemeja biru dan dasi serasi berdiri di depan kami dengan wajah teduh disertai senyuman manis yang menghiasi. Ternyata beliau adalah dosen pengganti, karena Pak Rizal sudah sepuh beliau memutuskan untuk pensiun dan mengutus putranya untuk melanjutkan amanah yang belum sempat terselesaikan.
            Dalam setiap kajian, akan ada kata-kata singkat penuh makna yang selalu terngiang. Salah satunya adalah “Zina yang paling sulit dihindari dan hanya sedikit manusia yang selamat dari padanya adalah zina MATA”. Segera kutundukan kembali kepalaku dan beristighfar dalam hati. Selama ini, mataku lebih sering menatap tanah dan alas kaki orang-orang ketika berjalan, hingga pernah tidak bertegur sapa dengan orang yang kukenal, namun hal ini tidak masalah apabila zina itu dapat dihindarkan.  
***
            Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya, kukeluarkan semua isi tasku untuk mencari flashdisk yang berisi rancangan skripsi. Setelah semua berantakan, baru kusadari belum mencabutnya dari laptop akibat begadang dan akhirnya ketiduran kemarin malam. Segera kupersiapkan bahan yang akan kukonsultasikan dengan dosen pembimbing skripsiku.
            Kulangkahkan kaki menuju rumah dengan gaya arsitektur elit dengan tiang penopang atap teras yang terbuat dari kayu jati. Gemercik air mancur menyambut kedatanganku setelah memasuki pintu utama rumah Pak Rizal, dosen pembimbing skripsiku. Setelah beberapa saat membunyikan bel, seorang pemuda yang tak asing lagi dimataku keluar dengan mengenakan kemeja putih  membukakan pintu. Ternyata Pak Rizal tidak dapat membimbing skripsi kami, namun beliau meminta putranya, Mas Farid untuk menggantikan beliau dalam hal ini juga.
Ya! Muhammad Farid Anwar, itulah awal aku bertemu dengan suamiku yang tidak lain adalah dosenku. Skenario pertemuan yang tidak dapat dibayangkan, sungguh diluar dugaan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”.(QS An-nur:26)
            Sebagai seorang remaja, aku berbeda dari kebanyakan remaja lainnya. Aku sangat menentang hubungan pacaran yang sudah menjadi kebiasaan dalam menghabiskan masa lajang. Aku percaya ketika Allah telah menetapkan jodoh, maka skenario pertemuan juga akan dirancang. Mau bagaimanapun caranya, jodoh pasti akan datang, tidak perlu melalui jalan pacaran yang akan menjerumuskan lebih dalam ke jurang kemaksiatan.
***
            Liburan semester ini orang tua memintaku untuk langsung pulang ke rumah. Biasanya aku diizinkan untuk beberapa hari menikmati awal liburan panjang dengan teman-teman. Mereka sangat percaya bahwa aku tidak akan salah pergaulan, untuk itu aku harus bisa memegang kepercayaan yang telah mereka berikan. Aku patuhi permintaan mereka untuk segera kembali ke rumah setelah UAS usai.
            Pertemuan keluarga akan digelar malam ini. Aku sempat merajuk karena ibu tidak memberitahu sebelumnya dan meminta persetujuanku. Namun apa daya, kuturuti saja permintaan mereka, aku yakin sepenuhnya dengan pilihan orang tua, Insyaallah yang terbaik. Gamis biru dengan motif kotak-kotak nan anggun kukenakan malam ini, kumantapkan hati dengan menatap wajah sendiri di depan cermin. Beberapa saat kemudian, terdengar suara Ibu memanggilku dari balik pintu.
Aku mengambil tempat duduk ditengah-tengah Ayah dan Ibu tanpa menatap satu persatu wajah para tamu. Jantungku berdebar tak menentu, entah rasa senang atau gelisah yang beradu. Ayah memulai percakapan dengan para tamu dengan sebuah pertanyaan yang membuatku semakin menundukkan wajahku, “Apakah anak kami ini yang Mas Farid maksud?” tanya Ayahku kepada lelaki yang berniat menyempurnakan setengah diennya denganku. Hatiku semakin tak menentu setelah mendengar namanya, kulirik sejenak laki-laki yang duduk diseberangku, “Farid itu kan, dosenku...” gumamku dalam hati. “Benar Pak” jawabnya mantap sembari menggenggam kedua telapak tangannya di atas paha tanda gelisah. Tanganku mulai berkeringat dingin ketika Ayah mengajukan pertanyaan untukku, “Bagaimana Firda? Apa kamu bersedia menerima lamaran Mas Farid?”
Aku hanya bisa terbungkam, dalam suasana terjepit ini, aku ingat nasehat Pak Kyai  dalam pengajian tempo hari, “Apabila telah datang kepadamu seorang laki-laki sholeh, maka tidak baik bagimu untuk menolaknya, karena hal pertama yang harus dilihat oleh seorang wanita muslimah dalam menentukan pasangan hidupnya adalah dari akhlak seorang laki-laki, bukan ketampanan ataupun kekayaan yang ia miliki.” Mengingat perkataan itu aku sedikit melirik raut wajahnya yang teduh penuh keimanan, dan hatiku semakin mantap untuk menerima pinangannya. Keimanan tersirat jelas diwajahnya. Kuanggukkan sedikit kepalaku untuk menyetujui niatannya. “Alhamdulillah” ucap semua orang yang menghadiri pertemuan keluarga kami saat itu.
Tanggal pernikahan kami ditetapkan dua bulan mendatang, rasanya memang canggung harus menikah dengan orang yang belum lama dikenal, namun aku percaya bahwa Allah telah mengatur dan menetapkan  sedemikian rupa  hukum-hukum Islam untuk kebaikan hamba-Nya yang menerapkan dalam kehidupan. Karena hidup di dunia tanpa keridhoan Allah SWT, bagaikan bejana kosong yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa arah dan tujuan.
***
            Lantunan Ayat Al-Qur’an terdengar syahdu terucap dari mulutnya dalam suasana ijab kabul yang diselenggarakan tanggal 15 Agustus 2012. Bagiku, mahar paling mahal yang telah Mas Farid berikan adalah hafalan Q.S Ar-rahman. Suaranya yang merdu menyejukkan kalbu.
            Bak raja dan ratu, kami duduk di pelaminan dalam acara resepsi yang diselenggarakan di gedung pertemuan hotel Cakra Mandala. Suasana haru dan bahagia meliputi keluarga kami, khususnya keluargaku yang harus melepaskan anak perempuan mereka mengikuti suaminya. Ayah memelukku erat seakan enggan untuk melepasku. Namun begitulah hukum kehidupan yang beredar, dimana suatu saat seorang Ayah harus rela menjadi sosok lelaki kedua yang melindungi putri tercinta setelah suaminya.
***
            Hawa dingin menusuk hingga ke pori-pori. Sepekan sudah hujan deras membasahi bumi dari sore hingga malam usai.
Jam dinding menunjukkan angka 12, kulihat suamiku masih terdiam dengan headset menutupi telinganya. Tangannya  terus menekan tombol tasbih dengan mata tertutup dan bibir yang tak henti-hentinya berucap. Perlahan aku berjalan mendekatinya yang duduk di shofa ruang keluarga. Seminggu terakhir ini ia jarang memejamkan mata, ia memilih berdzikir setelah menyelesaikan pekerjaannya hingga sepertiga malam tiba, kemudian berlanjut untuk menunaikan sholat malam bersama. Ia hanya sejenak memejamkan matanya untuk menunggu waktu subuh tiba, itupun karena kupaksa. Aku khawatir ia akan jatuh sakit karena kurang istirahat, ku tegur dengan nada suara pelan agar ia mau istirahat, namun tetap saja ia selalu berkata “aku baik-baik saja, ada Allah yang selalu melindungi setiap hamba-Nya yang bertakwa”. Nada suara lembutnya, senyuman manis yang selalu mengiringi perkataannya, takan pernah kulupa untuk selamanya.
***
            Dua bulan hidup bersamanya aku merasa sangat bahagia. Hingga sempat tak terpikir  olehku, hidup di dunia hanyalah sementara dan kebahagiaan di dalamnya bersifat fana.
            Jalan basah akibat hujan deras semalaman mengiringi perjalanan kami menuju kampus. Dalam perjalanan, ia memintaku menyalakan lantunan Ayat Al-Qur’an di tape mobil. Kupandang wajahnya yang teduh penuh dengan keimanan, sunggingan senyuman terpancar dari wajahnya yang menawan membalas pandangan, mata kami saling bertemu sesaat dan kembali fokus seperti semula dengan stir mobilnya seraya berkata, “Kebahagiaan sejati adalah ketika kita dekat dengan Allah SWT”, kata singkat penuh makna yang tak akan pernah kulupa. Hingga pada akhirnya mobil pengangkut barang melaju kencang dari arah yang berlawanan tepat ke arah kami. Spontan suamiku membanting stir menghindari tabrakan, mobil kami menabrak trotoar dengan keras dan pohon di pinggir jalan. Dengan kepala yang masih pening akibat kecelakaan, kucoba untuk membuka pintu mobil. Kuarahkan pandanganku ke arah suamiku, aku sangat syok melihat darah yang mengalir dari kepalanya yang terbentur stir mobil terlebih lagi pohon yang ditabrak tepat berada di depan kaca mobilnya. Orang-orang berdatangan mengerumuni kami, suara ambulan terdengar beberapa saat setelah kecelakaan.
***
            Kulihat tubuhnya yang terbujur di atas bed ambulan. Melihat darah yang terus mengalir dari pelipis dan nafasnya yang sudah tak beraturan, kutahan butiran bening keluar dari ujung mata. Dadaku sesak menahan tangis, kufokuskan sisa kekuatan untuk menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat di telinganya. Kudengar jelas bibirnya mengucap dua kalimat syahadat dengan suara lirih dan lancar.
Keringat membasahi keningnya yang berdarah, wajahnya tenang dengan mulut yang tak henti-hentinya mengucap kalimat “Allah”. Aku merasa ini sudah waktunya, aku tidak ingin hanya bersama dengannya di dunia, tapi aku ingin selalu bersama dirinya sampai di kehidupan selanjutnya. Jangankan manusia biasa, Nabi Muhammad, manusia yang paling sempurna tetap merasakan betapa sakitnya saat malaikat maut datang mencabut nyawa dari raga manusia. Kugenggam tangannya yang sudah dingin, saat mulutnya berhenti mengucap kalimat “Allah”, bibirnya menyiratkan senyuman tipis, matanya yang semula terbelalak menahan rasa sakit menutup perlahan, Inna lillhahi wa inna ilaihi roji’un, beliau telah berpulang untuk  menghadap Sang Pencipta alam semesta dan seisinya. Dadaku semakin sesak menahan tangis, aku yakin Allah lebih menyayanginya daripada aku harus melihatnya menderita menahan sakitnya. Aku harus kuat karena ini cobaan yang diberikan Allah SWT untuk menguji seberapa besar keimanan dan kesabaran yang aku miliki, aku pasti dapat melaluinya karena “Allah tidak memberikan cobaan kepada hamba-Nya diluar batas kemampuannya”. Namun apa daya aku hanya seorang manusia yang jauh dari kata sempurna, tubuhku semakin lemah dan seketika pandanganku berubah menjadi gelap.
***
            Aku berharap mimpi buruk ini akan segera berakhir. Kubuka mataku perlahan, kulihat di sekelilingku peralatan medis tertata rapi dan jarum infus menancap di tangan kananku. Kupegang sisi bangsal untuk menyeimbangkan posisi dudukku, kepalaku pening. Kini aku sadar bahwa semua ini bukanlah mimpi, segera kucabut jarum infus dan berlari mencari suamiku.
            Kupercepat langkahku menuju meja resepsionis, suster mengatakan bahwa korban kecelakaan mobil yang masuk satu jam lalu telah di bawa ke ruang jenazah. Kulangkahkan kakiku menuju ruang jenazah, pikiranku tak karuan seakan tak percaya kenyataan ini telah terjadi padaku. Suster merangkulku dan membawaku pada salah satu jenazah yang tertutup kain putih di samping pintu masuk ruangan. Dadaku tak kuasa menahan tangis, nafasku tersendak-sendak. Segera kuberlari menuju masjid terdekat untuk menenangkan diri, aku tak sanggup walau sekedar menitikan air mata di depan jenazahnya.
***
            Kakiku mati rasa, mulutku bungkam, namun hatiku tiada henti-hentinya berdzikir dan berdo’a. Aku harus kuat, karena Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai batas keimanannya. Sabar adalah kunci utama untuk melalui cobaan yang Allah berikan. Sekarang hatiku mulai tenang, walaupun orang yang aku kasihi telah pergi dan tiada pernah kembali. Tapi aku yakin bahwa Allah akan mempertemukan kami kembali di surga-Nya nanti. Amin.
            Seorang ibu paruh baya menghampiriku yang sedang melepas mukena, disodorkannya satu botol air mineral kepadaku. Ternyata beliau telah memperhatikanku semenjak kedatanganku ke masjid dengan linangan air mata, menangis hingga tak bersuara. “Minum dek, tenangkan hatimu.” Sembari menepuk-nepuk pundakku pelan agar aku tidak larut dalam kesedihan yang mendalam.
***
            Kubuka kain putih yang menutupi tubuhnya. Kulihat cahaya keimanan menyelimuti wajah pucat dengan sedikit senyuman di bibirnya yang sudah biru. Mataku bengkak, air mataku tak lagi menetes, aku tidak ingin menangis di depan jenazahnya. Aku ikhlas atas segala kehendak Allah. Aku hanya mampu berbisik di telinganya, “Terima kasih Mas, telah membimbing dan menuntunku ke jalan yang diridhoi Allah”. Kini aku lega beliau berpulang ke rahmatullah dengan husnul khotimah..Insyaallah.
            Memang berat harus menerima kenyataan ditinggal wafat suami disaat pembangunan  pondasi awal rumah tangga kami. Tetapi Allah pasti akan memberikan hikmah atas cobaan yang Ia berikan untuk menguji keimanan seorang hamba kepada-Nya. Kini kewajibanku adalah mendo’akannya agar ia bahagia menungguku di sisi-Nya.
***
            Semilir angin menyibakkan kerudung panjangku. Dedaunan menari-nari menyambut kedatangan kami pagi ini. Fakhri meminta turun dari gendonganku, ia duduk di pinggir makam yang bertuliskan “Muhammad Farid Anwar bin H. Rizal Haryanto”. Kupandangi sekeliling makamnya, tidak ada yang berubah, masih sama seperti dua tahun lalu ketika tubuhku ambruk setelah jasadnya dimasukkan ke liang lahat.
Setiap hari selalu kuceritakan kepada anakku perihal Ayahnya. Kuusahakan agar ia banyak mengenal Ayahnya walaupun sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Mas Farid adalah orang yang sangat cinta kepada Allah, maka sudah menjadi kewajibanku untuk  menanamkan kepada buah hati kami rasa cinta kepada Tuhannya melebihi dunia dan seisinya.
Pertanyaan polosnya menegunkan lamunanku, “Ibu, Ayah sekarang ada di tempat yang jauh ya? Tapi tempat ini kan dekat dengan rumah Fakhri..” Aku tersenyum kecil dan memeluknya erat. Aku sangat bahagia memilikinya, Maha Suci Allah yang telah memberiku nikmat yang tiada tara setelah cobaan berat yang aku terima.
- THE END -














0 komentar:

Posting Komentar