JANJI YANG TAK PERNAH TERINGKARI
Gemercik air
mancur taman kota menyejukkan suasana pagi, sang mentari memancarkan sinarnya
memantulkan cahaya embun di dedaunan bak kristal yang bersinar dalam kegelapan.
Itulah keindahan alam yang selalu Ahmad saksikan di pagi hari kota Islamabad menemani lari paginya. Rutinitas ini selalu ia
jalankan semenjak datang ke Pakistan 2 tahun yang lalu, karena ia sadar penting
dan nikmatnya kesehatan tanpa harus merasakan sakit dahulu untuk menyadarinya.
Sesaat ia termenung menatap dedaunan hijau di depannya, matanya menerawang jauh
masa sebelum ia berada di Pakistan untuk megambil program S2 di International
Islamic University Islamabad melalui
bantuan yang ditawarkan Pak Kyai di pesantren tempatnya menuntut ilmu dahulu
sebagai penghargaan atas kecerdasan yang ia miliki, bahkan setelah lulus dari
IIUI beliau memintanya untuk kembali ke pondok pesantrennya dan berjuang membantu
pondok.
***
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wa barakaatuh”,
salam Ahmad setelah masuk kelas pertama
kalinya untuk mengajar di MAN yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya. “Wa’alaikum
salam warahmatullahi wa barakaatuh”, jawab para siswi kelas XII MAN
Al-Mubarokah serempak mewakili kesemangatan mereka untuk mendalami ilmu agama dengan
guru baru lulusan Al-Azhar Kairo. Pertama-tama Ahmad memperkenalkan
identitasnya terlebih dahulu karena pepatah memaparkan “Tak kenal maka tak
sayang”. Di tengah pelajaran, ia mengajukan pertanyaan tentang riwayat
hidup Imam Syafi’i, karena tidak satupun dari muridnya yang tahu maka pilihan
terakhirnya adalah mengambil absen yang tergeletak di atas meja dan menunjuk
satu dari nama-nama yang tertera diatasnya. “Miftahuz Zayanah, coba jawab
pertanyaan saya sesuai yang anti tahu!” perintah Ahmad kepada Ana, gadis
manis yang selalu menempati peringkat
pertama di kelasnya. Namun tak disangka perempuan dengan jilbab lebar itu
menjawabnya dengan benar. Ana memang seorang yang pemalu, jadi ia tidak berani
mengangkat tangannya ketika Ahmad mengajukan pertanyaan. Senyuman tipis
tersirat di wajah Ahmad, tetapi Ana langsung menundukkan pandangannya tanpa
membalas senyuman gurunya itu. Itulah pertama kalinya ia melirik seorang wanita
dan tanpa ia sadari, ia menaruh hati padanya.
***
Sepulang
menjalankan ibadah sholat isya’ di masjid, Khoirul, teman satu pondoknya dahulu
menyapanya setelah lama memperhatikan untuk memastikan apakah orang di depannya
benar-benar Ahmad, teman paling cerdas di angkatannya dahulu. “Ahmad? Ahmad
Syauqy?” tanya Khoirul memastikan. “Eh Khoirul! Apa kabar?” jawabnya
sembari merangkul bahu temannya itu. “Betah sekali kamu di Mesir sampai lupa
kampung halaman” canda Khoirul. Limpahan rasa rindu dua sahabat yang 6
tahun tidak bertemu itupun meluap sampai tak sadar perbincangan mereka harus
berakhir di depan rumah Ahmad yang berjarak 800 m dari masjid. “Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikum salam. Sudah pulang le?” Tanya Ibunya yang terbaring
lemah di atas dipan. “Sudah bu” jawabnya sembari mencium tangan keriput
seorang Ibu yang penuh berkah. Ibunya menghela nafas dalam-dalam dan mengatakan
dengan mata berkaca-kaca “Le, rasanya sebelum Ibu pergi kok kepingin
menimang cucu.” Ungkapan singkat sang Ibu menegunkan pandangan anak semata
wayangnya. “Ibu,, jodoh, maut, rezeki itu sudah diatur Allah. Kalau sudah
saatnya, maka tidak ada satupun hal yang akan menghalangi kecuali yang menentukan
takdir itu sendiri. Jadi, Ibu tidak usah khawatir dan jangan bilang seperti itu
ya,, Ibu kan masih sehat.” Jawab Ahmad dengan senyuman kepada Ibunda
tercintanya sembari membenarkan selimut Ibundanya. Mata sang Ibu berkaca-kaca
seakan memang keinginannya itu sudah tidak dapat ia bendung lagi sebelum ajal
benar-benar menjemputnya.
***
Malam itu ia
larut dalam do’a tahajjudnya. Jam dinding menunjukkan angka 3, ayam jantan
mulai berkokok menandakan bahwa hari mulai pagi. Ditengah kesunyian sepertiga
malam, ia selalu berdo’a agar Allah memberikannya yang terbaik dalam segala hal
termasuk jodoh di dalamnya. Selama ini, tidak seperti yang dilakukan pemuda
seusianya yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna, pacaran
kesana-kemari dan menghamburkan uang orang tua, ia lebih memilih mengajar ngaji
sebagai pekerjaan sampingannya kuliah di Mesir walaupun ia kuliah disana
menggunakan beasiswa. Ketika teman-teman yang lainnya mendapatkan kiriman dari
orangtua mereka, Ahmad sebaliknya, mengirim uang untuk Ibunya di rumah yang
kesehariannya merawat ladang peninggalan almarhum Ayahnya. Ahmad sangat
bersyukur karena dapat melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah tanpa membebani Ibunya
dengan mahalnya biaya perkuliahan. Namun ia juga sedih karena harus jauh dari Ibundanya
yang kini hanya tinggal sendirian di rumah. Hidup sederhana adalah hal biasa
yang sudah jadi makanan sehari-hari Ahmad bahkan dikala ia sangat membutuhkan
kebahagiaan sekalipun, namun keteguhan hati dan kekuatan imannya mengalahkan
keinginan semata itu, ia selalu yakin bahwa Allah akan memberikannya sebuah
kebahagiaan kelak di kemudian hari. Ia ambil Al-Qur’an di atas meja samping
tempat tidurnya, cucuran air mata membasahi pipinya ketika dilantunkannya Kalamullah
itu.
***
Ustad Ahmad, begitulah
ia dipanggil oleh siswa-siswinya di sekolah. Teks hasil ujian siswa-siswi kelas
XII menumpuk di meja kerjanya, ia isi jam istirahatnya untuk mengoreksi seluruh
kertas ujian karena sore ini ada panggilan dari Kyainya di pesantren. Setelah
merekap seluruh nilai, ia menentukan siapa yang memperoleh nilai tertinggi
dalam pelajarannya, dugaannya tidak meleset, Ana menempati nomer 1 disusul oleh
teman-temannya yang nilainya jauh dibawahnya. Hatinya menggumam, betapa
pandainya anak ini padahal soal yang ia berikan diluar buku yang ia ajarkan
tetapi berdasarkan besarnya pengetahuan mereka tentang Agama Islam. Ia pun
semakin mantap dengan pilihannya meskipun harus menunggu Ana menyelesaikan S1
nya.
***
Di kediaman
Bapak Kyai, ia mengutarakan niatnya untuk memenuhi keinginan Ibunya yang sudah
sakit-sakitan sekaligus meminta pendapat
beliau bagaimana yang terbaik untuk dirinya dan Ibunya agar tidak ada
penyesalan di akhir nanti atas pilihan yang diambilnya. “Saya sudah
menganggap kamu seperti anak saya sendiri, kalau kamu yakin atas pilihanmu
Insyaallah itu akan menjadi yang terbaik untukmu, kalau kamu belum yakin, jalan
satu-satunya adalah sholat istikhoroh. Minta petunjuk pada Allah, kalau memang
itu jodohmu bagaimanapun caranya pasti akan bertemu, jadi tidak usah khawatir.”
Nasehat Pak Kyai menyadarkannya akan pentingnya kesabaran dan kehati-hatian
dalam mengambil keputusan yang pasti dan tidak meleset. “Minggu lalu, Rektor
IIUI datang silaturahmi kemari, beliau menjelaskan tentang kuliah di IIUI untuk
Pascasarjana. Saya sarankan untuk saat ini kamu melanjutkan S2 dulu, baru
setelah lulus kamu menikah dan turut berjuang membantu pondok. Bagaimana, apa
kamu berminat melanjutkan jenjang Pascasarjana?” Ahmad terdiam sejenak,
hatinya menangis gembira, betapa Allah sangat menyayanginya bahkan tatkala ia
terjepit, Allah datang memberikannya pertolongan yang tak pernah ia duga
sebelumnya. “Insyaallah saya akan belajar sungguh-sungguh dan tidak
mengecewakan Pak Kyai.” Jawabnya singkat. “Baik kalau begitu persiapkan
dirimu untuk berangkat sekitar 3 bulan lagi, Bapak percaya padamu”. Sambil
menepuk-nepuk pundak Ahmad. “Terimakasih Pak Kyai” jawabnya sambil
menunduk penuh haru.
***
Ana terdiam
didepan meja belajarnya, dipandanginya diary hijau yang ia beli sebelum masuk
MA. Sebenarnya ia tidak senang menulis sehingga diary tipis itu tak pernah
penuh terisi oleh goresan tinta curahan hatinya. Ia hanya menulis apabila hal
itu sangat penting dan bersejarah baginya. Ia buka lembar ketiga yang masih halus
tanpa goresan tinta diatasnya, mengapa lembar ketiga? Karena kebiasaan Ana
menulis diary secara acak, bahkan ia menoreh tinta pertama kalinya di halaman
paling belakang. (Ya Allah.. tetap teguhkan keimanan hamba-Mu yang lemah ini
agar tidak goyah oleh bisikan setan dengan adanya seseorang yang hamba
sukai, sadarkanlah hamba apabila beliau memang bukan jodoh hamba, maka
jauhkanlah kami sejauh-jauhnya, namun apabila beliau jodoh hamba, satukanlah
kami dalam ikatan tali pernikahan agar kami tidak terpuruk dalam jurang
kemaksiatan. Untuk saat ini, kalau memang belum saatnya kami bersatu, maka
jauhkanlah kami dahulu agar bisikan setan tidak dapat menggoyahkan iman kami).
Ana menutup diarynya sambil meng-Amini apa yang ia tulis. Sebenarnya hatiya
bimbang karena ia mengetahui rencana orang tuanya untuk menjodohkannya dengan
Fahri, saudara jauhnya, meskipun mereka belum meminta pendapatnya tentang
perjodohan ini. Namun yang ia takutkan apabila harus memilih salah satu dari
pilihan orangtua atau pilihannya sendiri.
***
Pagi ini
terlihat teman-teman sekelasnya mengerumuni Ustad Ahmad yang sedang memasang
kertas di atas papan pengumuman. Setelah sedikit sepi, ia melangkah menuju
papan pengumuman itu, dicarinya nama Miftahuz Zayanah, dari belakang tampak
Ahmad memperhatikan Ana. Ia mengira bahwa pemandangan yang akan ia saksikan
adalah Ana yang melompat kegirangan karena memperoleh nilai terbaik, namun
dugaannya kali ini meleset, Ana mengucapkan hamdalah sambil mengusapkan
kedua telapak tangannya ke wajahnya yang teduh. Ia tidak melihat pemandangan
seperti ini sejak tadi ketika murid-muridnya yang lain melihat hasil ulangan
Ahmad tersebut. “Wah selamat Zayanah, nilaimu bagus” ucap Ahmad sambil
mengacungkan jempol kanannya pada Ana. “Oh..tidak ustad, tanpa ustad mungkin
nilai saya tidak akan seperti ini” jawab Ana latah karena kaget gurunya
tiba-tiba berada di belakangnya. “Ah kamu ini, itu kan tidak pernah ustad
ajarkan, kalau begitu bersiplah masuk kelas, study hard” pintanya sambil
berlalu. Ana hanya manggut-manggut dan bergegas menuju kelas.
***
Siang ini,
udara terasa sangat panas karena pertengahan musim kemarau di bulan Agustus.
Terik matahari seakan membakar ubun-ubun kepalanya dalam perjalanannya menuju
kerumah setelah selesai mengajar.
Setelah
melewati pintu depan dan mengucapkan salam, tidak ada suara Ibunya yang
biasanya spontan menjawab salamnya. Ia lewati kamar sang Ibu dan ditemukannya
wajah keriput nan pucat sudah terbujur kaku di atas dipan. “Ibu! Ibu
kenapa?” teriak Ahmad sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ibunya yang
dingin. “Ibu..! Jangan tinggalkan Ahmad sendiri bu!” teriaknya sehingga Pak
Darma tetangganya panik dan langsung menerobos masuk lewat pintu belakang rumah
Ahmad. “Ahmad! Ada apa? Innalillahi wa ina ilaihi roji’un..” kata Pak
Darma sambil memegang bahu Ahmad yang sedang menangis memeluk tubuh Ibunya yang
kulitnya sudah pucat. Sesegera mungkin Pak Darma meminta bantuan para warga
untuk menolong Ahmad yang sedang berduka cita.
Setelah Ibunya
selesai disemayamkan, di depan kuburan Ibunya yang masih basah, air matanya tak
dapat berhenti mengalir di pipinya. Penyesalan yang mendalam tersirat dalam
hati Ahmad, karena ia belum dapat mengabulkan permintaan Ibundanya. “Ustad,,”
tiba-tiba suara seorang wanita memecahkan keheningan tangisnya yang tak lagi
bersuara, dengan mata sembab Ahmad menoleh kebelakang, didapatinya Ana beserta Ayahnya.
“Kami turut berduka cita nak Ahmad, teguhkan hatimu, insyaallah Ibu nak
Ahmad bahagia karena memiliki anak sholeh sepertimu. Mari nak kita pulang
bersama, Pak Kyai sudah menunggu dari tadi” ajak Ayah Ana. Ayah Ana sangat
menyukai kepribadian Ahmad, mulai dari ceramah Ahmad yang sangat menyentuh hati hingga kecerdasan
yang dimilikinya, beliau tidak mendahulukan materi untuk memandang seseorang,
namun kepribadian adalah yang paling utama untuk diketahui. Maka dari itu
ketika Ahmad diberikan cobaan ini, beliau merasa iba dengan Ahmad sehingga
memutuskan untuk menemaninya sesudah pemakaman hingga kuburan sepi.
“Laki-laki
sejati tidak cengeng, tidak gentar akan badai yang menghiruk-pirukan hidupmu
sekalipun, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, karena jodoh, maut dan
rezeki sudah ada yang mengatur, setelah ini jangan pikirkan yang telah berlalu,
yang lalu ya sudah..biarkan saja beralu karena tangisan dan penyesalanmu tidak
akan pernah membangkitkan kembali Ibumu yang telah meninggal, tetapi do’amu
akan memberikan kebahagiaan baginya disana. Mulai sekarang pikirkan masa
depanmu, kamu ini masih muda jangan kamu sia-siakan kesempatan yang telah Allah
berikan kepadamu, Bapak hanya dapat membantu untuk mewujudkan cita-citamu dan
kamu, adalah penentu dari cita-cita itu sendiri. Secepatnya kamu persiapkan diri
karena lusa adalah hari keberangkatanmu ke Islamabad, sengaja Bapak majukan
agar kamu tidak tenggelam dalam kesedihan, belajar yang benar disana dan
pikirkanlah masa depanmu. Ya? kalau begitu Bapak pamit, masih ada urusan di
pondok yang harus segera dikerjakan.”
Jelas Pak Kyai dan segera bersiap untuk meninggalkan rumah Ahmad. Ahmad hanya
terdiam dan mengangguk men-iyakan nasehat Pak Kyai lalu mengantarkan beliau ke
depan rumahnya.
***
Hari ini Ahmad
Syauqy pergi ke MAN Al-Mubarokah untuk berpamitan kepada kepala sekolah dan murid-muridnya. Seluruh dewan
guru dan murid-muridnya mengucapkan bela sungkawa atas cobaan yang sedang Allah
berikan kepada Ahmad sekaligus berterimakasih banyak karena telah bersedia membantu mengajar di sekolah mereka.
Ketika hendak pulang, suara seorang wanita memanggilnya, “Ustad Ahmad, antum
mau pergi sekarang?” tanya Ana yang tak biasanya mau menemui Ahmad seorang
diri. “Iya Zayanah, do’akan ustad supaya berhasil ya,, dan kamu juga jaga
diri baik-baik, tetap jadi juara kelas, dan sukses. Semoga Allah mempertemukan
kita lagi”. Ana tertegun atas kata-kata Ahmad yang terakhir, apa makna yang
sebenarnya dari kalimat itu, apakah pertemuan antara guru dan murid ataukah
pertemuan jodoh. “Oh,, iya ustad semoga; hati-hati ustad, jaga diri antum
baik-baik” kata Ana yang masih berdiri semabari mengiringi kepergian Ahmad.
Seulas senyuman merekah di wajah mereka berdua yang akan berpisah dalam jangka
waktu yang tidak dapat dipastikan.
***
Jarum jam
menunjukkan angka 8 waktu setempat. Ia tersadar dari nostalgianya dan segera
pulang ke asramanya. Dalam perjalanan pulang ia menggumam dalam hatinya “Zayanah,tunggu
ustad ya,,karena apa yang ustad cita-citakan akan segera terwujud sebentar
lagi.” Senyuman kebahagiaan merekah di wajah manisnya, tidak hanya karena
sebentar lagi S2nya selesai juga karena ia mendapatkan penghargaan sebagai
mahasiswa berprestasi dalam jurusan Aqidah dan Filsafat dengan nilai GPA (Grade
Point Average) tertinggi. Inilah kebahagiaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya
yang selalu sabar, tawakkal dan tidak pernah mengeluh akan cobaan yang terus
menerus menimpanya karena pada saatnya, Allah akan memberikan kebahagiaan sebagai hadiah kepada hamba-Nya
yang bertakwa.
0 komentar:
Posting Komentar