Kamis, 22 Oktober 2015

JANJI YANG TAK PERNAH TERINGKARI

Gemercik air mancur taman kota menyejukkan suasana pagi, sang mentari memancarkan sinarnya memantulkan cahaya embun di dedaunan bak kristal yang bersinar dalam kegelapan. Itulah keindahan alam yang selalu Ahmad saksikan di pagi hari kota Islamabad  menemani lari paginya. Rutinitas ini selalu ia jalankan semenjak datang ke Pakistan 2 tahun yang lalu, karena ia sadar penting dan nikmatnya kesehatan tanpa harus merasakan sakit dahulu untuk menyadarinya. Sesaat ia termenung menatap dedaunan hijau di depannya, matanya menerawang jauh masa sebelum ia berada di Pakistan untuk megambil program S2 di International Islamic University Islamabad  melalui bantuan yang ditawarkan Pak Kyai di pesantren tempatnya menuntut ilmu dahulu sebagai penghargaan atas kecerdasan yang ia miliki, bahkan setelah lulus dari IIUI beliau memintanya untuk kembali ke pondok pesantrennya dan berjuang membantu pondok.     
***
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh”, salam Ahmad setelah masuk  kelas pertama kalinya untuk mengajar di MAN yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya. “Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakaatuh”, jawab para siswi kelas XII MAN Al-Mubarokah serempak mewakili kesemangatan mereka untuk mendalami ilmu agama dengan guru baru lulusan Al-Azhar Kairo. Pertama-tama Ahmad memperkenalkan identitasnya terlebih dahulu karena pepatah memaparkan “Tak kenal maka tak sayang”. Di tengah pelajaran, ia mengajukan pertanyaan tentang riwayat hidup Imam Syafi’i, karena tidak satupun dari muridnya yang tahu maka pilihan terakhirnya adalah mengambil absen yang tergeletak di atas meja dan menunjuk satu dari nama-nama yang tertera diatasnya. “Miftahuz Zayanah, coba jawab pertanyaan saya sesuai yang anti tahu!” perintah Ahmad kepada Ana, gadis manis  yang selalu menempati peringkat pertama di kelasnya. Namun tak disangka perempuan dengan jilbab lebar itu menjawabnya dengan benar. Ana memang seorang yang pemalu, jadi ia tidak berani mengangkat tangannya ketika Ahmad mengajukan pertanyaan. Senyuman tipis tersirat di wajah Ahmad, tetapi Ana langsung menundukkan pandangannya tanpa membalas senyuman gurunya itu. Itulah pertama kalinya ia melirik seorang wanita dan tanpa ia sadari, ia menaruh hati padanya.
***
Sepulang menjalankan ibadah sholat isya’ di masjid, Khoirul, teman satu pondoknya dahulu menyapanya setelah lama memperhatikan untuk memastikan apakah orang di depannya benar-benar Ahmad, teman paling cerdas di angkatannya dahulu. “Ahmad? Ahmad Syauqy?” tanya Khoirul memastikan. “Eh Khoirul! Apa kabar?” jawabnya sembari merangkul bahu temannya itu. “Betah sekali kamu di Mesir sampai lupa kampung halaman” canda Khoirul. Limpahan rasa rindu dua sahabat yang 6 tahun tidak bertemu itupun meluap sampai tak sadar perbincangan mereka harus berakhir di depan rumah Ahmad yang berjarak 800 m dari masjid. “Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikum salam. Sudah pulang le?” Tanya Ibunya yang terbaring lemah di atas dipan. “Sudah bu” jawabnya sembari mencium tangan keriput seorang Ibu yang penuh berkah. Ibunya menghela nafas dalam-dalam dan mengatakan dengan mata berkaca-kaca “Le, rasanya sebelum Ibu pergi kok kepingin menimang cucu.” Ungkapan singkat sang Ibu menegunkan pandangan anak semata wayangnya. “Ibu,, jodoh, maut, rezeki itu sudah diatur Allah. Kalau sudah saatnya, maka tidak ada satupun hal yang akan menghalangi kecuali yang menentukan takdir itu sendiri. Jadi, Ibu tidak usah khawatir dan jangan bilang seperti itu ya,, Ibu kan masih sehat.” Jawab Ahmad dengan senyuman kepada Ibunda tercintanya sembari membenarkan selimut Ibundanya. Mata sang Ibu berkaca-kaca seakan memang keinginannya itu sudah tidak dapat ia bendung lagi sebelum ajal benar-benar menjemputnya.
***
Malam itu ia larut dalam do’a tahajjudnya. Jam dinding menunjukkan angka 3, ayam jantan mulai berkokok menandakan bahwa hari mulai pagi. Ditengah kesunyian sepertiga malam, ia selalu berdo’a agar Allah memberikannya yang terbaik dalam segala hal termasuk jodoh di dalamnya. Selama ini, tidak seperti yang dilakukan pemuda seusianya yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna, pacaran kesana-kemari dan menghamburkan uang orang tua, ia lebih memilih mengajar ngaji sebagai pekerjaan sampingannya kuliah di Mesir walaupun ia kuliah disana menggunakan beasiswa. Ketika teman-teman yang lainnya mendapatkan kiriman dari orangtua mereka, Ahmad sebaliknya, mengirim uang untuk Ibunya di rumah yang kesehariannya merawat ladang peninggalan almarhum Ayahnya. Ahmad sangat bersyukur karena dapat melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah tanpa membebani Ibunya dengan mahalnya biaya perkuliahan. Namun ia juga sedih karena harus jauh dari Ibundanya yang kini hanya tinggal sendirian di rumah. Hidup sederhana adalah hal biasa yang sudah jadi makanan sehari-hari Ahmad bahkan dikala ia sangat membutuhkan kebahagiaan sekalipun, namun keteguhan hati dan kekuatan imannya mengalahkan keinginan semata itu, ia selalu yakin bahwa Allah akan memberikannya sebuah kebahagiaan kelak di kemudian hari. Ia ambil Al-Qur’an di atas meja samping tempat tidurnya, cucuran air mata membasahi pipinya ketika dilantunkannya Kalamullah itu.
***
Ustad Ahmad, begitulah ia dipanggil oleh siswa-siswinya di sekolah. Teks hasil ujian siswa-siswi kelas XII menumpuk di meja kerjanya, ia isi jam istirahatnya untuk mengoreksi seluruh kertas ujian karena sore ini ada panggilan dari Kyainya di pesantren. Setelah merekap seluruh nilai, ia menentukan siapa yang memperoleh nilai tertinggi dalam pelajarannya, dugaannya tidak meleset, Ana menempati nomer 1 disusul oleh teman-temannya yang nilainya jauh dibawahnya. Hatinya menggumam, betapa pandainya anak ini padahal soal yang ia berikan diluar buku yang ia ajarkan tetapi berdasarkan besarnya pengetahuan mereka tentang Agama Islam. Ia pun semakin mantap dengan pilihannya meskipun harus menunggu Ana menyelesaikan S1 nya.
***
Di kediaman Bapak Kyai, ia mengutarakan niatnya untuk memenuhi keinginan Ibunya yang sudah sakit-sakitan sekaligus meminta pendapat  beliau bagaimana yang terbaik untuk dirinya dan Ibunya agar tidak ada penyesalan di akhir nanti atas pilihan yang diambilnya. “Saya sudah menganggap kamu seperti anak saya sendiri, kalau kamu yakin atas pilihanmu Insyaallah itu akan menjadi yang terbaik untukmu, kalau kamu belum yakin, jalan satu-satunya adalah sholat istikhoroh. Minta petunjuk pada Allah, kalau memang itu jodohmu bagaimanapun caranya pasti akan bertemu, jadi tidak usah khawatir.” Nasehat Pak Kyai menyadarkannya akan pentingnya kesabaran dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan yang pasti dan tidak meleset. “Minggu lalu, Rektor IIUI datang silaturahmi kemari, beliau menjelaskan tentang kuliah di IIUI untuk Pascasarjana. Saya sarankan untuk saat ini kamu melanjutkan S2 dulu, baru setelah lulus kamu menikah dan turut berjuang membantu pondok. Bagaimana, apa kamu berminat melanjutkan jenjang Pascasarjana?” Ahmad terdiam sejenak, hatinya menangis gembira, betapa Allah sangat menyayanginya bahkan tatkala ia terjepit, Allah datang memberikannya pertolongan yang tak pernah ia duga sebelumnya. “Insyaallah saya akan belajar sungguh-sungguh dan tidak mengecewakan Pak Kyai.” Jawabnya singkat. “Baik kalau begitu persiapkan dirimu untuk berangkat sekitar 3 bulan lagi, Bapak percaya padamu”. Sambil menepuk-nepuk pundak Ahmad. “Terimakasih Pak Kyai” jawabnya sambil menunduk penuh haru.
***
Ana terdiam didepan meja belajarnya, dipandanginya diary hijau yang ia beli sebelum masuk MA. Sebenarnya ia tidak senang menulis sehingga diary tipis itu tak pernah penuh terisi oleh goresan tinta curahan hatinya. Ia hanya menulis apabila hal itu sangat penting dan bersejarah baginya. Ia buka lembar ketiga yang masih halus tanpa goresan tinta diatasnya, mengapa lembar ketiga? Karena kebiasaan Ana menulis diary secara acak, bahkan ia menoreh tinta pertama kalinya di halaman paling belakang. (Ya Allah.. tetap teguhkan keimanan hamba-Mu yang lemah ini agar tidak goyah oleh bisikan setan dengan adanya seseorang yang hamba sukai, sadarkanlah hamba apabila beliau memang bukan jodoh hamba, maka jauhkanlah kami sejauh-jauhnya, namun apabila beliau jodoh hamba, satukanlah kami dalam ikatan tali pernikahan agar kami tidak terpuruk dalam jurang kemaksiatan. Untuk saat ini, kalau memang belum saatnya kami bersatu, maka jauhkanlah kami dahulu agar bisikan setan tidak dapat menggoyahkan iman kami). Ana menutup diarynya sambil meng-Amini apa yang ia tulis. Sebenarnya hatiya bimbang karena ia mengetahui rencana orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Fahri, saudara jauhnya, meskipun mereka belum meminta pendapatnya tentang perjodohan ini. Namun yang ia takutkan apabila harus memilih salah satu dari pilihan orangtua atau pilihannya sendiri.
***
Pagi ini terlihat teman-teman sekelasnya mengerumuni Ustad Ahmad yang sedang memasang kertas di atas papan pengumuman. Setelah sedikit sepi, ia melangkah menuju papan pengumuman itu, dicarinya nama Miftahuz Zayanah, dari belakang tampak Ahmad memperhatikan Ana. Ia mengira bahwa pemandangan yang akan ia saksikan adalah Ana yang melompat kegirangan karena memperoleh nilai terbaik, namun dugaannya kali ini meleset, Ana mengucapkan hamdalah sambil mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya yang teduh. Ia tidak melihat pemandangan seperti ini sejak tadi ketika murid-muridnya yang lain melihat hasil ulangan Ahmad tersebut. “Wah selamat Zayanah, nilaimu bagus” ucap Ahmad sambil mengacungkan jempol kanannya pada Ana. “Oh..tidak ustad, tanpa ustad mungkin nilai saya tidak akan seperti ini” jawab Ana latah karena kaget gurunya tiba-tiba berada di belakangnya. “Ah kamu ini, itu kan tidak pernah ustad ajarkan, kalau begitu bersiplah masuk kelas, study hard” pintanya sambil berlalu. Ana hanya manggut-manggut dan bergegas menuju kelas.
***
Siang ini, udara terasa sangat panas karena pertengahan musim kemarau di bulan Agustus. Terik matahari seakan membakar ubun-ubun kepalanya dalam perjalanannya menuju kerumah setelah selesai mengajar.
Setelah melewati pintu depan dan mengucapkan salam, tidak ada suara Ibunya yang biasanya spontan menjawab salamnya. Ia lewati kamar sang Ibu dan ditemukannya wajah keriput nan pucat sudah terbujur kaku di atas dipan. “Ibu! Ibu kenapa?” teriak Ahmad sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ibunya yang dingin. “Ibu..! Jangan tinggalkan Ahmad sendiri bu!” teriaknya sehingga Pak Darma tetangganya panik dan langsung menerobos masuk lewat pintu belakang rumah Ahmad. “Ahmad! Ada apa? Innalillahi wa ina ilaihi roji’un..” kata Pak Darma sambil memegang bahu Ahmad yang sedang menangis memeluk tubuh Ibunya yang kulitnya sudah pucat. Sesegera mungkin Pak Darma meminta bantuan para warga untuk menolong Ahmad yang sedang berduka cita.
Setelah Ibunya selesai disemayamkan, di depan kuburan Ibunya yang masih basah, air matanya tak dapat berhenti mengalir di pipinya. Penyesalan yang mendalam tersirat dalam hati Ahmad, karena ia belum dapat mengabulkan permintaan Ibundanya. “Ustad,,” tiba-tiba suara seorang wanita memecahkan keheningan tangisnya yang tak lagi bersuara, dengan mata sembab Ahmad menoleh kebelakang, didapatinya Ana beserta Ayahnya. “Kami turut berduka cita nak Ahmad, teguhkan hatimu, insyaallah Ibu nak Ahmad bahagia karena memiliki anak sholeh sepertimu. Mari nak kita pulang bersama, Pak Kyai sudah menunggu dari tadi” ajak Ayah Ana. Ayah Ana sangat menyukai kepribadian Ahmad, mulai dari ceramah Ahmad yang    sangat menyentuh hati hingga kecerdasan yang dimilikinya, beliau tidak mendahulukan materi untuk memandang seseorang, namun kepribadian adalah yang paling utama untuk diketahui. Maka dari itu ketika Ahmad diberikan cobaan ini, beliau merasa iba dengan Ahmad sehingga memutuskan untuk menemaninya sesudah pemakaman hingga kuburan sepi.
“Laki-laki sejati tidak cengeng, tidak gentar akan badai yang menghiruk-pirukan hidupmu sekalipun, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, karena jodoh, maut dan rezeki sudah ada yang mengatur, setelah ini jangan pikirkan yang telah berlalu, yang lalu ya sudah..biarkan saja beralu karena tangisan dan penyesalanmu tidak akan pernah membangkitkan kembali Ibumu yang telah meninggal, tetapi do’amu akan memberikan kebahagiaan baginya disana. Mulai sekarang pikirkan masa depanmu, kamu ini masih muda jangan kamu sia-siakan kesempatan yang telah Allah berikan kepadamu, Bapak hanya dapat membantu untuk mewujudkan cita-citamu dan kamu, adalah penentu dari cita-cita itu sendiri. Secepatnya kamu persiapkan diri karena lusa adalah hari keberangkatanmu ke Islamabad, sengaja Bapak majukan agar kamu tidak tenggelam dalam kesedihan, belajar yang benar disana dan pikirkanlah masa depanmu. Ya? kalau begitu Bapak pamit, masih ada urusan di pondok yang harus segera dikerjakan.” Jelas Pak Kyai dan segera bersiap untuk meninggalkan rumah Ahmad. Ahmad hanya terdiam dan mengangguk men-iyakan nasehat Pak Kyai lalu mengantarkan beliau ke depan rumahnya.
***
Hari ini Ahmad Syauqy pergi ke MAN Al-Mubarokah untuk berpamitan kepada kepala  sekolah dan murid-muridnya. Seluruh dewan guru dan murid-muridnya mengucapkan bela sungkawa atas cobaan yang sedang Allah berikan kepada Ahmad sekaligus berterimakasih banyak karena telah  bersedia membantu mengajar di sekolah mereka. Ketika hendak pulang, suara seorang wanita memanggilnya, “Ustad Ahmad, antum mau pergi sekarang?” tanya Ana yang tak biasanya mau menemui Ahmad seorang diri. “Iya Zayanah, do’akan ustad supaya berhasil ya,, dan kamu juga jaga diri baik-baik, tetap jadi juara kelas, dan sukses. Semoga Allah mempertemukan kita lagi”. Ana tertegun atas kata-kata Ahmad yang terakhir, apa makna yang sebenarnya dari kalimat itu, apakah pertemuan antara guru dan murid ataukah pertemuan jodoh. “Oh,, iya ustad semoga; hati-hati ustad, jaga diri antum baik-baik” kata Ana yang masih berdiri semabari mengiringi kepergian Ahmad. Seulas senyuman merekah di wajah mereka berdua yang akan berpisah dalam jangka waktu yang tidak dapat dipastikan.
***
Jarum jam menunjukkan angka 8 waktu setempat. Ia tersadar dari nostalgianya dan segera pulang ke asramanya. Dalam perjalanan pulang ia menggumam dalam hatinya “Zayanah,tunggu ustad ya,,karena apa yang ustad cita-citakan akan segera terwujud sebentar lagi.” Senyuman kebahagiaan merekah di wajah manisnya, tidak hanya karena sebentar lagi S2nya selesai juga karena ia mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi dalam jurusan Aqidah dan Filsafat dengan nilai GPA (Grade Point Average) tertinggi. Inilah kebahagiaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang selalu sabar, tawakkal dan tidak pernah mengeluh akan cobaan yang terus menerus menimpanya karena pada saatnya, Allah akan memberikan  kebahagiaan sebagai hadiah kepada hamba-Nya yang bertakwa.







0 komentar:

Posting Komentar